<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741</id><updated>2012-02-15T23:01:14.812-08:00</updated><category term='PROSEDUR PTA DAN STENT'/><category term='DASAR-DASAR LINEAR ACCELERATOR'/><category term='KEDOKTERAN NUKLIR'/><category term='EFEK RADIASI'/><category term='BAHAN KONTRAS'/><category term='MRI DAN USG AMAN'/><category term='DASAR-DASAR MRI'/><title type='text'>SIR</title><subtitle type='html'>Radiology Information Center</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-4824908735535121645</id><published>2011-06-28T04:33:00.000-07:00</published><updated>2011-06-28T04:52:40.568-07:00</updated><title type='text'>JAMINAN KUALITAS RADIOGRAFI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Defenisi Jaminan Kualitas Radiograf&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aspek-aspek yang menjadi sasaran utama dari program asuransi kualitas gambar adalah, pertama dapat menghasilkan gambar yang dapat memberikan nilai diagnostik semaksimal mungkin sehingga dapat membantu dalam proses terapi suatu penyakit. Sasaran ini mengandung arti peningkatan kualitas jasa. Kedua, hendaknya dalam semaksimal mungkin dengan mengikuti konsep ALARA (As.low as reaneble schievable). Ketiga dalam pembuatan radiograf dapat menekan biaya produksi semaksimal mungkin, salah satu upayanya dengan tidak melakukan pengulangan foto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dalam melakukan suatu kegiatan manajemen mutu, peningkatan jaminan kualitas dilakukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap Quality Assurance (QA) radiodiagnostik di kalangan pekerja radiasi. Kontrol kualitas atau Quality control (QC) merupakan bagian dari jaminan kualitas (Quality assurance). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Quality Control adalah suatu kegiatan meneliti mengembangkan, merancang dan memenuhi kepuasan konsumen, memberikan pelayanan yang baik dimana pelaksanaannya melibatkan seluruh kegiatan dalam radiologi mulai dari pimpinan teratas sampai staf radiologi.&lt;br /&gt;Pada dasarnya, tujuan Quality control adalah manajemen jumlah film yang ditolak dan upaya membatasi terjadi pengulangan. Dalam pembuatan radiograf secara nyata akan membatasi bertambahnya radiasi yang diterima oleh pasien.&lt;br /&gt;Reject Analisis program adalah metode yang digunakan oleh depertemen radiologi untuk menentukan Analisys film yang ditolak untuk efektifitas biaya konsitansi dan peralatan dalam menghasilkan radiograf yang berkualitas. Pada dasarnya Reject Analisys merupakan umpan balik dari proses pembentukan radiograf yang menggunakan sebab-sebab ditolaknya oleh dokter spesialis radiologi. Dalam hal ini radiograf yang tidak mampu menyajikan informasi diagnostik yang memadai bagi penegakan diagnosa.&lt;br /&gt;Manfaat yang dapat di ambil dari pelaksanaan program Reject Analisys, ini yaitu untuk mempertahankan konsisitensi Quality radiograf. Menekankan dosis radiasi terhadap pasien dengan jalan tidak melakukan pengulangan foto dan dapat menekan biaya produksi dalam unit instalasi radiologi.&lt;br /&gt;2. Jaminan Mutu Radiologi&lt;br /&gt;Asal dari manajemen mutu modern dapat ditelusuri pada awal tahun 1900, oleh pekerja insinyur industri yang bernama Frederick Winslow Taylor. Kemudian di Amerika manajemen mutu tidak hanya diterapkan di bidang industri tetapi juga di bidang pelayanan kesehatan, termasuk radiologi.&lt;br /&gt;Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) memberikan batasan penjaminan kualitas dalam bidang radiologi diagnostik sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Usaha terorganisasi yang dilakukan oleh staf yang mengoperasikan untuk menjamin bahwa gambar diagnostik yang dihasilkan oleh fasilitas tersebut memiliki kualitas cukup tinggi sehingga dapat memberikan informasi diagnostik secara konsisten dengan biaya yang minimum dan dengan paparan radiasi sekecil mungkin yang diterima pasien”   &lt;br /&gt;Jadi esensinya, sasaran program penjaminan mutu dalam pelayanan radiologi diagnostik adalah memantau performa dari seluruh komponen atau faktor yang dapat mempengaruhi kualitas gambar dan usaha memperkecil adanya pemborosan film dalam bagian radiologi. Justifikasi riil dari upaya penjaminan kualitas dan pengendalian kualitas  adalah tertuju pada hasil yang diharapkan dapat dicapai yaitu dalam ungkapan internasional dikenal dengan 3D (Dose, Diagnosis, Dollars), yang maknanya dapat diuraikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Dose (dosis), meminimalkan dosis radiasi terhadap pasien sehingga manfaat pemeriksaan dapat melebihi resiko. Sementara mengurangi dosis pasien berarti juga mengurangi dosis terhadap personel&lt;br /&gt;b. Diagnosis, mengurangi dosis radiasi sembari menjaga dan meningkatkan kualitas gambar atau informasi diagnostik berarti telah mengoptimasi diagnosis atau dengan kata lain diagnosis dapat ditegakkan.&lt;br /&gt;c. Dollars, dengan mengurangi jumlah pengulangan dalam pemotretan, utilisasi dari sumber daya dapat ditingkatkan dan pengurangan jumlah film dan bahan lainnya pada akhirnya mengurangi biaya pemeriksaan dan penghematan biaya (http://cafe-radiologi.blogspot.com/2010/09/konsep-mutu-dan-penjaminan-mutu-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jaminan Mutu QA (Quality Assurance)&lt;br /&gt;Jaminan mutu atau QA adalah keseluruhan dari program manajemen (pengelolaan) yang diselenggarakan guna menjamin pelayanan kesehatan prima dengan cara pengumpulan data dan melakukan evaluasi secara sistematis.&lt;br /&gt;Sasaran utama program QA adalah peningkatan kualitas pelayanan pasien dan interpretasi gambar dengan tepat waktu.&lt;br /&gt;4. Kendali Mutu QC (Quality Control)&lt;br /&gt;Kendali mutu atau QC didefinisikan sebagai bagian dari QA. QC menitikberatkan aktifitas programnya pada teknik-teknik yang diperlukan bagi pengawasan (monitoring), perawatan dan menjaga (maintenance) elemen-elemen teknis dari suatu sistem peralatan radiografi dan imaging yang mempengaruhi mutu gambar.&lt;br /&gt;5. Reject Analysis&lt;br /&gt;Aspek penting dari program manajemen kualitas adalah prosedur analisa pengulangan film. Ini adalah suatu proses secara sistematis penggolongan gambar yang ditolak dan menentukan sebab dari pengulangan tersebut sehingga pengulangan foto dapat dikurangi atau dihilangkan kedepannya. Reject analysis menyediakan data penting tentang kinerja alat, prosedur kerja, dan tingkat kemampuan pekerja.&lt;br /&gt;Reject Analysis adalah suatu prosedur untuk mengetahui tingkat kesalahan teknik dalam melakukan pemeriksaan atau kesalahan yang timbul oleh peralatan yang dinilai terhadap film-film yang terbuang dengan sia–sia. &lt;br /&gt;Tujuan dari reject analysis adalah:&lt;br /&gt;1. Menganalisa jumlah film yang terbuang sebagai sebuah persentase dari total film yang digunakan.&lt;br /&gt;2. Membuat standar untuk program QA dan kemudian memantau sebuah keefektifan dari suatu program.&lt;br /&gt;A. Faktor-faktor yang menyebabkan reject film atau ditolaknya film adalah:&lt;br /&gt;1. Kesalahan manusia &lt;br /&gt;2. Kesalahan peralatan &lt;br /&gt;3. Pergerakan pasien.&lt;br /&gt;B. Manfaat reject analysis adalah:&lt;br /&gt;1. Memastikan bahwa teknik radiografi yang digunakan tepat dan penanganan film yang dilakukan benar.&lt;br /&gt;2. Memastikan bahwa perlengkapan radiografi yang digunakan dalam kondisi baik dan standar.&lt;br /&gt;3. Memastikan bahwa pemilihan jenis film yang digunakan tepat.&lt;br /&gt;C. Prosedur pelaksanaan reject analysis film adalah melakukan survei terhadap:&lt;br /&gt;1. Jumlah film yang belum terekspos di ruang processing termasuk yang ada di dalam kaset.&lt;br /&gt;2. Jumlah film yang belum terekspos di masing-masing kamar pemeriksaan.&lt;br /&gt;3. Masing-masing ruang mencatat jumlah film yang digunakan dan jumlah film yang ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Beberapa kiat mengurangi tingkat kerusakan film&lt;br /&gt;1. Tim analisis melakukan pengumpulan data dari masing-masing ruangan seminggu sekali, film yang ditolak disortir dan dilakukan kategorisasi  (jika memungkinkan dilakukan identifikasi pada setiap pemeriksaan).&lt;br /&gt;Perhitungan angka reject dapat dihitung dengan cara menggunakan rumus sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Casual Reject Rate adalah angka reject dengan penyebab yang spesifik&lt;br /&gt;         CRR(Casual Reject Rate)=(jumlah film yang ditolak dengan penyebab spesifik : &lt;br /&gt;                                    total film yang ditolak ) x 100&lt;br /&gt; b. Total Reject Rate merupakan keseluruhan angka reject dari semua jumlah film             yang digunakan:   &lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;TRR (Total Reject Rate) = (Total film yang direjek : total film yang digunakan)x 100&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-4824908735535121645?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/4824908735535121645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=4824908735535121645' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/4824908735535121645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/4824908735535121645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2011/06/jaminan-kualitas-radiografi.html' title='JAMINAN KUALITAS RADIOGRAFI'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-4533492886612414851</id><published>2008-08-15T20:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T20:58:32.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSEDUR PTA DAN STENT'/><title type='text'>PROSEDUR PTA DAN STENT</title><content type='html'>Percutaneous Transluminal Angioplasty (PTA) adalah suatu tindakan pelebaran pembuluh darah yang mengalami penyempitan (stenosis) dengan menggukan balon kateter. Sedangkan vascular stent adalah rangkaian logam kecil anti karat yang digunakan untuk mempertahankan lebar pembuluh darah yang telah dilakukan prosedur angioplasty. Saat ini bermacam-macam jenis stent telah teraplikasi untuk penanganan penyumbatan ataupun penyempitan pembuluh darah. Dr Julio Palmaz  dari Sant Antonio Texas memberikan konstribusi besar dalam perkembangan teknologi stent. Jenis stent palmaz yang dikembangkan dengan teknik balon merupakan gerbang bai perkembangan jenis-jenis stent yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konstruksi dan jenis stent&lt;br /&gt;Bahan baku yang digunakan untuk konstruksi stent telah mengalami kemajuan pesat dalam 10 tahun terakhir. Saat ini stent dibuat dari besi baja (Stainless Steel) maupun dari logam khusus yang disebut nitinol.  Bahan baku Nitinol sangat berguna untuk desain stent yang lebih fleksibel dan memiliki daya tahan yang tinggi. Stent teraplikasi kedalam pembuluh darah bersifat menetap (permanent) dan tidak dapat dikeluarkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_urChPu-FDHc/SKZPImgCgfI/AAAAAAAAALU/yOECtFfW3nI/s1600-h/stent.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_urChPu-FDHc/SKZPImgCgfI/AAAAAAAAALU/yOECtFfW3nI/s400/stent.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234958626057257458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Jenis stent dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu stent yang diaplikasikan dengan bantuan balon (Ballon expandable stent) dan stent yang teraplikasi dan mengembang sendiri (self expandable stent). Berikut ini jenis-jenis stent yang diaplikasikan terhadap bermacam-macam lesi pembuluh darah :&lt;br /&gt; 1. Palmaz stent : terbuat dari baja, merupakan ballon expandable stent yang &lt;br /&gt;           bersifat kokoh dan umumnya digunakan untuk area penyempitan yang pendek. &lt;br /&gt;           Stent ini merupakan stent pertama dan tertua hingga saat ini.&lt;br /&gt; 2. Wall stent : Merupakan self expandable stent yang terbuat dari baja dan &lt;br /&gt;           digunakan untuk untuk lesi yang panjang dan memeiliki diameter hingga 24 &lt;br /&gt;            mm. stent ini dapat dipergunakan untuk berbagai situasi karena bersifat &lt;br /&gt;               fleksibel.&lt;br /&gt;       3. Bard Luminex Stent : Self expanding Nitinol Stent &lt;br /&gt;       4. Symphony Stent    : Self expanding nitinol stent &lt;br /&gt;       5. Smart Stent   : Self Expanding Nitinol stent &lt;br /&gt;       6.Perflex Stent : Long Balloon expandable stent &lt;br /&gt;       7. AVE stent  : Balloon expandable &lt;br /&gt;       8. AVE SE stent : Self expanding nitinol stent &lt;br /&gt;       9. Intrastent  : Balloon Expandable  stent&lt;br /&gt;       10. Herculink : Balloon Exapandable stent sangat lentur dan khusus &lt;br /&gt;         digunakan untuk pembuluh darah arteri ginjal.&lt;br /&gt;      11. Dynalink : Self Expanding Nitinol Stent &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaidah Pemasangan Stent &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Pilihan jenis stent tergantung pada anatomi dari pembuluh darah dan macam lesi yang harus diterapi. Pada penyempitanarteri iliaka dengan kondisi pembuluh darah yang lurus maka jenis stent yang dipilih adalah palmaz stent dan corynthian stent, sedangkan pada pembuluh darah arteri iliaka yang berkelok-kelok (tortuous/kinking)  atau melintang tegak lurus (Cross-over)dibutuhkan stenting yang lebih fleksibel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan balon-balon dan jenis stent diptuskan berdasarkan gambar hasil pemeriksaan diagnostik awal (Arteriografi iliaka diagnostik) yang meliputi ; morfologi pembuluh darah (lurus atau kinking), diameter pembuluh normal,  Prosentase penyempitan, pernah diterapi serupa dan lokasi penyempitan (pada bifukarsi, arteri iliaka kommunis atao arteri iliaka externa).&lt;br /&gt;Prosedur PTA dan Aplikasi Stent &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Persiapan Pasien&lt;br /&gt;   Sebelum tindakan PTA dan aplikasi stent dilakukan maka dilakukan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pasien atau keluarga pasien menandatangani surat persetujuan tindakan &lt;br /&gt;       (informed consent) setelah terlebih dahulu dilakukan penjelasan menyangkut &lt;br /&gt;       prosedur dan resiko yang dapat ditimbulkan.&lt;br /&gt;b. Cukur rambut pubis jika pemeriksaan dilakukan di daerah inguinal (lipatan &lt;br /&gt;paha)                                                                                                                                                                              &lt;br /&gt;c. Pasien puasa 6-8 jam sebelum pemeriksaan.&lt;br /&gt;d. Jika pasien memiliki tingkat kecemasan yang tinggi maka dapat diberi obat penenang (sedative)&lt;br /&gt;2. Peralatan dan bahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Alat-alat&lt;br /&gt;  Alat-alat yang digunakan untuk tindakan PTA dan aplikasi stent selain pesawat angiografi syestem  meliputi :&lt;br /&gt; 1).  Jas operasi&lt;br /&gt; 2).  Doek besar dan kecil&lt;br /&gt; 3).  Saraung penutup tabung Image Intensifier &lt;br /&gt; 4).  Perlak&lt;br /&gt; 5).  Cawang (kom) untuk cairan pembilas dan cairan desinfektan&lt;br /&gt; 6).  Nierbeken&lt;br /&gt; 7). Tupper tang&lt;br /&gt; 8).  Pisau bedah No.4 (Scapel)&lt;br /&gt; 9).  Spuit 20 cc 2 buah, spuit 10 cc 2 buah, spuit 2.5 cc 1 buah, spuit 5 &lt;br /&gt;             cc     1 buah&lt;br /&gt; 10). Sarung tangan (handscoend)&lt;br /&gt; 11). Infus set &lt;br /&gt; 12). Manometer line&lt;br /&gt; 13). Three way connector panjang dan Y connector&lt;br /&gt; 14). Jarum seldinger &lt;br /&gt; 15). Introducer set yang terdiri dari : mini guide wire, Sheat, dan dilator.&lt;br /&gt; 16). Guide wire yang terdiri dari : penuntun kateter guiding dan penuntun &lt;br /&gt;             kateter balon dan kateter stent&lt;br /&gt; 17). Kateter Guiding&lt;br /&gt; 18). Stent&lt;br /&gt; 19). Jika aplikasi stent dengan bantuan balon kateter maka diperlukan alat&lt;br /&gt;                    pengukur tekanan balon (indeflator)&lt;br /&gt;c. Bahan-bahan&lt;br /&gt; Bahan-bahan yang diperlukan meliputi :&lt;br /&gt; 1). Batadine&lt;br /&gt; 2). Alkohol&lt;br /&gt; 3). Cairan NaCl&lt;br /&gt; 4). Nitrattrigliseril (NTG)&lt;br /&gt; 5). Heparin&lt;br /&gt; 6). Lidokain 2 %&lt;br /&gt;7). Bahan Kontras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelaksanaan Prosedur&lt;br /&gt; Prosedur pelaksanaan PTA dan aplikasi stent pada arteri iliaka adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt; a. Daerah lipatan paha (inguinal) di desinfeksi&lt;br /&gt; b. badan pasien ditutup dengan kain steril kecuali daerah puncture&lt;br /&gt; c. Abocath ditusukkan kedalam arteri femoralis  dengan sudut ±60o.&lt;br /&gt; d. Jika abocath telah masuk ke arteri femoralis darah akan menyembur keluar &lt;br /&gt;                selanjut mandrin dicabut.&lt;br /&gt; e. mini guide wire dimasukkan melalui stylet abocath&lt;br /&gt; f. Stylet abocath dicabut dan sheat bersama dilatator dimasukkan.&lt;br /&gt; g. Mini guide wire, stylet dan dilatator dicabut sehingga hanya sheat yang &lt;br /&gt;           tetap berada pada lumen arteri (sheat berfungsi sebagi tempat keluar-&lt;br /&gt;           masuknya guied wire beserta kateter serta tempat memasukkan bahan-bahan&lt;br /&gt;            farmasi).&lt;br /&gt; h. Cairan pembilas disuntikkan melalaui sheat untuk emcegah terjadinya &lt;br /&gt;           gumpalan (bekuan) darah dalam sheat. (cairan pembilas merupakan campuaran &lt;br /&gt;               cairan NaCl dengan Heparin dengan perbandingan 1000 : 1)&lt;br /&gt; i. Kateter dan sheat juga dibilas selanjutnya dibawah control floroskopi &lt;br /&gt;          guide wire menuntun kateter guiding menuju ke pembuluh darah target &lt;br /&gt; j. Kateter guiding dibilas kembali dengan cairan pembilas.&lt;br /&gt; k. Bahan kontras disuntikkan melalui kateter untuk identifikasi area &lt;br /&gt;           penyempitan dan gambar yang dihasilkan akan menjadi pedoman kerja.&lt;br /&gt; l. Guide wire penuntun kateter balon dan kateter stent dimasukkan dan harus &lt;br /&gt;                melewati area penyempitan .&lt;br /&gt; m. Balon kateter dimasukkan melalui guide wire menuju ke area penyempitan&lt;br /&gt; n. Bahan kontras kembali disuntikkan ke dalam arteri iliaka untuk &lt;br /&gt;           memastikan   balon kateter tepat berada dalam area penyempitan&lt;br /&gt; o. Balon kateter dikembangkan sesuai dengan nominal yang direkomendasikan &lt;br /&gt;           untuk melebarkan pembuluh darah dan jika diperlukan diameter balon dapat &lt;br /&gt;               ditambah dengan menambah tekanan balon hingga ke batas maksimum &lt;br /&gt;               (sebelum mencapai Rating Burst Ballon ;RBP) selama ±30 detik.&lt;br /&gt; p. Balon dikempiskan dan kembali dilakukan penyuntikan bahan kontras untuk &lt;br /&gt;                mengetahui hasil balon&lt;br /&gt; q. Jika area penyempitan telah melebar dengan diameter sesuai yang &lt;br /&gt;           diinginkan maka stent dapat diaplikasikan dengan cara :&lt;br /&gt;  1). Melalui guide wire kateter stent diarahkan ke araea penyempitan&lt;br /&gt;  2). Bahan kontras disuntikkan ke dalam pembuluh darah target&lt;br /&gt;                    untuk memastikan kateter stent tepat berada dalam area &lt;br /&gt;                     penyempitan.&lt;br /&gt;  3). Jika telah berada dalam area penyempitan maka stent dikembangkan&lt;br /&gt;  4). Dilakukan evaluasi ketepatan posisi stent dalam area penyempitan &lt;br /&gt;                    dengan menyuntikkan bahan kontras, Jika hasil evaluasi lumen &lt;br /&gt;                    penyempitan belum melebar maksimal setelah stent diaplikasikan &lt;br /&gt;                    maka dapat dilakukan pelebaran tambahan dengan balon kateter.&lt;br /&gt;5).  Kateter stent dicabut bersama guide wire untuk selanjutnya dilakukan &lt;br /&gt;       evaluasi akhir untuk melihat hasil pemasangan stent &lt;br /&gt;6). Prosedur selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-4533492886612414851?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/4533492886612414851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=4533492886612414851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/4533492886612414851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/4533492886612414851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/prosedur-pta-dan-stent.html' title='PROSEDUR PTA DAN STENT'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_urChPu-FDHc/SKZPImgCgfI/AAAAAAAAALU/yOECtFfW3nI/s72-c/stent.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-3527551703847755345</id><published>2008-08-15T00:29:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:32:26.315-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DASAR-DASAR LINEAR ACCELERATOR'/><title type='text'>DASAR-DASAR LINEAR ACCELERATOR</title><content type='html'>Radioterapi telah diterima sebagai sebuah modalitas penting pada pengobatan penyakit kanker tidak lama setelah ditemukan sinar X pada akhir abad XIX disamping modalitas lain seperti pembedahan dan khemoterapi. Modalitas ini berkembang dengan pesat mengikuti perkembangan teknologi pada umumnya. Radiasi eksterna yang merupakan metode pemberian radiasi konvensional telah berubah dengan kemampuan meningkatnya tegangan yang dihasilkan oleh sistem generator pengahasil foton.  Semakin tinggi tegangan yang dihasilkan semakin optimal pula hasil pengobatan., yakni diperolaeh kematian jaringan tumor sebanyak-banyaknya tetapi kerusakan jaringan sehat sekitarnya adalah minimal. Radiasi eksterna diawali dengan penggunaan anode stastis yang menghasilkan tegangan sebanyak 10 kilo volt, dan sekarang dengan teknologi akselerator dapat dihasilkan tegangan tinggi dalam penggunaan untuk kesehatan sampai dengan 15 Mega Volt di samping elektron. Di Negara maju akselerator untuk kesehatan juga telah merambah penggunaan neutron, proton serta parikel berat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah&lt;br /&gt;Akselerator adalah alat yang dipakai untuk mempercepat gerak partikel bermuatan seperti elektron, proton, inti-inti ringan, dan inti atom lainnya. Mempercepat gerak pertikel bertujuan agar pertikel tersebut bergerak dengan cepat sehingga memiliki energi kinetik yang sangat tinggi. Untuk mempercepat gerak partikel ini diperlukan medan listrik ataupun medan magnet. Dilihat dari jenis gerakan medan partikel, ada dua jenis akselerator, yaitu akselerator dengan gerak partikelnya lurus (lebih dikenal sebutan akselerator liniear)dan gerak partikelnya melingkar (akselerator magnetik).&lt;br /&gt;Akselereator gerak pertama kali dikembangkan oleh dua orang fisikawan Inggris, J.D. Cockroft dan E.T.S Walton, di Laboratorium Cavendish, Universitas Cambrige pada 1929. atas jasanya itu, mereka dianugrahi hadiah Nobel bidang fisika pada 1951. pada mulanya, akselerator partikel dipakai untuk penelitian fisika energi tinggi dengan cara menabrakan partikel berkecepatan sangat tinggi kew target tertentu. Namun, ada beberapa jenis akselerator partikel yang dirancang untuk memproduksi radiasi berenergi tinggi untuk keperluan radioterapi.&lt;br /&gt;Tabung Betatron dan Sinkrotron Elektron&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan sinar-X dengan energi yang sangat tinggi, para ilmuwan telah membangun mesin pembangkit sinar-X yang sangat kuat. Salah satu diantaranya adalah mesin pembangkit yang diberi nama betatron. Mesin pada prinsipnya adalah suatu tabung sinar-X berukuran sangat besar. Betatron peartama kali diperkenalkan pada 1941 oleh Donald William Kerts dari Universitas Illinois, Amerika Serikat. Panamaan Betatron mengacu pada salahsatu jenis sinar radioakatif yaitu sinar-ß , yang merupakan aliran elektron yang berkecepatan tinggi.&lt;br /&gt;Betatron terdiri atas tabung kaca hampa udara berbentuk cincin raksasa yang diletakan diantara dua kutub magnet yang sangat kuat. Penyuntik berupa filamen panas yang berperan sebagai pemancar elektron dipasang untuk menginjeksi aliran elektron ke dalam tabung pada sudut tertentu. Setelah elektron disuntikan ke dalam tabung, ada dua gaya yang akan bekerja pada elektron tersebut. Gaya yang pertama membuat elektron bergerak mengikuti lengkungan tabung. Di dalam medan magnet, partikel akan bergerak melingkar. Gaya yang kedua berperan mempecepat gerak elektron hingga kecepatannya semakin tinggi. Melalui gaya ke dua ini, elektron memperoleh energi kinetik yang sangat besar. &lt;br /&gt;Dalam waktu sangat singkat, elekttron akan bergerak melingkar di dalam tabung beberapa ribu kali. Apabila energi kinetik elektron telah mencapai nilai tertentu, elektron dibelokan dari jalur lengkungannya sehingga dapat menabrak target secara langsung yang berada di tepi ruangan. Dari proses tabrakan ini pancarkan sinar X berenergi sangat tinggi. Sebagi besar Betatron menghasilkan elelktron berenergi kira-kira 20 MeV.&lt;br /&gt;Betatron memiliki kelemahan karena mesin itu memerlukan magnet berukuran sangat besar guna mendapatkan perubahan fluks yang diperlukan untuk mempercepat elektron. Untuk mengatasi kelemahan ini, diperkenalkan jenis akselerator elektron lainnya yang menggunakan magnet yang berbentuk cincin yang diberi nama sinkrontron elektron. Alat ini berfungsi sebagai pemercepat elektron yang mampu menghasilkan elektron dengan energi kinetik lebih besar di bandingkan Betatron. Elektron dengan energi anatara 50-100 kV dipancarkan dari filamen untuk selanutnya dipercepat di dalam alat. Pada saat akhir proses percepatan, elektron ditabrakan menuju sasaran sehingga dihasilkan sinar X dengan energi dan intensitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi LINAC&lt;br /&gt;Akselerator linier (Linear Accelerator, LINAC) paertama kali diperkenalkan oleh R. Wideroe di Swiss pada 1929, namun unjuk kerjanya saat itu kurang memuaskan. LINAC mempunyai kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan akselerator magnetik. Di samping itu, penyutikan artikel yang akan dipercepat dalam akseleratormagnetik sangat sulit dilakukan, sedang pada LINAC partikel dalam bentuk berkas terkolimasi secara otomatis terpencar ke dalam tabung akselerator.&lt;br /&gt;LINAC dapat dipakai untuk mempercepat partikel hingga berenergi di atas 1 BeV.&lt;br /&gt;Betatron praktis tidak mungkin mencapai energi setinggi karena memerlukan magnet berukura sangat besar. LINAC semula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan positif seperti proton. Namun, setelah berbagai modifikasi, mesin dapat pula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan negatif seperti elektron. Dalam hal ini, elektron yang dipercepat mampu bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya (elektron dengan energi 2 MeV bergerak dengan keceaptan 0,98 c, dengan c adalah keepatan cahaya). Jika elektron berenergi tinggi itu ditabrakan pada target dari logam berat maka dari pesawat LINAC akan di pancarkan sinar-X bernergi tinggi.&lt;br /&gt;Radioterapi dapat juga dilakukan dengan menggunakan elektron berenergi tinggi. Elektron yang dipercepat dalam LINAC dapat lamgsung di manfaatkan untuk radioterapi tanpa harus di tabrakan terlebih dahulu dengan logam berat. Jadi, LINAC dapat juga berperan sebagai sumber radiasi partikel berupa elektron cepat yang dapat dimanfaatkan untuk radioterapi tumor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-3527551703847755345?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/3527551703847755345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=3527551703847755345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/3527551703847755345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/3527551703847755345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/dasar-dasar-linear-accelerator.html' title='DASAR-DASAR LINEAR ACCELERATOR'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-469112965591244113</id><published>2008-08-15T00:26:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T00:29:31.203-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEDOKTERAN NUKLIR'/><title type='text'>KEDOKTERAN NUKLIR</title><content type='html'>Kedokteran nuklir adalah bidang kedokteran yang memanfaatkan materi radioaktif untuk menegakkan diagnosis, terapi penyakit serta penelitian. Secara lengkap Definisi Kedokteran Nuklir menurut WHO adalah ilmu kedokteran yang dalam kegiatannya menggunakan sumber radiasi terbuka (“unsealed’) baik untuk tujuan diagnosa, maupun untuk pengobatan penyakit (terapi), atau dalam penelitian kedokteran.&lt;br /&gt;Kedokteran Nuklir mencakup pemasukan radioisotop ke dalam tubuh pasien (studi in-vivo) dan dapat pula dengan mereaksikannya dengan bahan biologis seperti darah, cairan lambung, urine, dan sebagainya, yang berasal dari tubuh pasien, yang lebih dikenal sebagai studi in-vitro (dalam tabung percobaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Secara umum bidang kedokteran nuklir dapat digolongkan dalam 4 jenis kegiatan yaitu :&lt;br /&gt;1.  Pemeriksaan radioaktivitas secara eksternal in vivo setelah pemberian radionuklida  secara internal. Pada studi in-vivo, setelah radioisotop dapat dimasukkan ke tubuh pasien melalui mulut, suntikan, atau dihirup lewat hidung, maka informasi yang dapat diperoleh dari pasien dapat berupa:&lt;br /&gt;-  Citra atau gambar dari organ/bagian tubuh pasien yang diperoleh dengan bantuan  &lt;br /&gt;    peralatan kamera gamma ataupun kamera positron (teknik imaging). &lt;br /&gt;-  Grafik atau skala yang menunjukkan akumulasi maupun intensitas radioisotop &lt;br /&gt;-  Sampel dari tubuh pasien yang mengandung radioisotope seperti darah atau urine, &lt;br /&gt;    untuk dicacah (teknik non-imaging).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengukuran radioaktivitas secara in vitro dalam eluat hasil ekskresi setelah pemberian radionuklida seperti : studi absorpsi vitamin, studi kandungan air dalam tubuh secar total (total body water), studi metabolisme dan aplikasi bidang hematologi,&lt;br /&gt;3.  Pemeriksaan in vitro &lt;br /&gt;4. Terapi dengan radioisotop, misalnya pemberian iodium aktif untuk penyembuhan panyakit kaker tiroid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEJARAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan isotop radioaktif dalam bidang kedokteran dimulai tahun 1901 &lt;br /&gt;oleh Henri Danlos yang menggunakan Radium untuk pengobatan penyakit TBC &lt;br /&gt;kulit. Namun yang dianggap sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Nuklir adalah George C De &lt;br /&gt;Havessy yang meletakkan dasar prinsip perunut dengan menggunakan zat &lt;br /&gt;radioaktif. Waktu itu yang digunakan adalah radioisotop alam Pb212. Dengan &lt;br /&gt;ditemukannya radioisotop buatan, maka radioisotop alam tidak lagi digunakan.&lt;br /&gt;Radioisotop buatan yang banyak dipakai pada masa awal perkembangan kedokteran nuklir adalah I-131. Pemakaiannya kini telah terdesak oleh Tc99m, selain karena &lt;br /&gt;sifatnya yang ideal dari segi proteksi radiasi dan pembentukan citra juga dapat &lt;br /&gt;diperoleh dengan mudah, serta harga relatif murah. Namun demikian, I131 masih &lt;br /&gt;sangat diperlukan untuk diagnostik dan terapi, khususnya kanker kelenjar tiroid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RADIOFARMAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Radiofarmaka merupakan sediaan farmasi dalam bentuk senyawa kimia yang mengandung radioisotop  yang diberikan pada kegiatan kedokteran nuklir. Sediaan radiofarmaka pada umumnya terdiri dari 2 komponen  yaitu radioisotop dan bahan pembawa menuju ke organ target. Pancaran radiasi dari radioisotop pada organ target itulah yang akan dicacah oleh detector (gamma kamera) untuk direkostruksi menjadi citra ataupun grafik intensitas radiasi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat senyawa radioaktif untuk tujuan diagnosa adalah 1) murni satu nuklida saja, 2) murni secara radiokimia, 3) Pemancar sinar-gamma energi tunggal yang besarnya berkisar antara 100-400 KeV , 4) stabil dalam bentuk senyawa ,  5) Waktu paruh biologis pendek. Beberapa contoh sediaan radiofarmaka antara lain : Brom Sufatein I-131 (BSP), Hipuran I-131,  Radio Iodinated Human Serum Albumin (RIHSA), Rose Bengal I-131, Tc-99m dalam bentuk senyawa Natrium Perteknetat, Thalium -201, Galium-68. Beberapa contoh radiofarmaka untuk terapi : I-131, Bi-212, Y-90, Cu-67, Pd-109. Radiofarmaka yang banyak dipakai untuk keperluan in-vitro test adalah I-125. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi sediaan radiofarmaka dapat diklasifikasikan menjadi 4 :&lt;br /&gt;1. Radioisotop primer medical yaitu radioisotop dalam bentuk kimia yang sederhana (biasanya an-organik). Diproduksi dengan cara mengiradiasi atom sasaran dalam reaktor nuklir atau dalam siklotron.&lt;br /&gt;2. Senyawa bertanda medikal yaitu senyawa yang salh satu atau lebih dari atom atau gugusnya digantikan dengan atom unsur radioisotop&lt;br /&gt;3. Generator radioisotop ; untuk mendapatkan radioisotop umur pendek pada lokasi yang jauh dari tempat produksi radioisotop terutama bagi rumah-sakit yang tidak memiliki fasilitas reaktor nuklir maka diciptakanlah generator radioisotop. Generator radioisotop adalah suatu sistem yang terdiri dua macam radioisotop yaitu radioisotop induk induk dan radioisotop anak yang keduanya membentuk pasangan kesetimbangan radioaktif. Radioisotop induk memiliki waktu paruh yang lebih panjang daripada waktu paruh radioisotop anak. Radioisotop anak digunakan untuk keprluan diagnostik maupun terapi.&lt;br /&gt;4. Kit Radiofarmaka ; adalah sediaan non-radioaktif yang terdiri dari beberapa senyawa kimia yang akan ditandai dengan radioisotop untuk menjadi sediaan radiofarmaka. Radioisotop yang paling banyak digunakan adalah Technitium -99m  (Tc-99m) karena punya beberapa kelebihan, yaitu :&lt;br /&gt;- Waktu Paruh pendek (6,03 jam)&lt;br /&gt;- Memancarkan gamma murni dengan energi 140 kev&lt;br /&gt;- Mempunyai tingkat valensi 1 sampai 7 sehingga mudah bereaksi dengan senyawa lain.&lt;br /&gt;- Dapat diperoleh dengan cara elusi generator radioisotop.&lt;br /&gt;            Oleh kerena itu sediaan radiofarmaka yang berkembang sampai saat ini adalah &lt;br /&gt;         sediaan radiofarmaka Technitium yang disiapkan dalam bentuk kit radiofarmaka, &lt;br /&gt;         sedangakan Tc-99m dapat diperoleh dengan elusi generator.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mekanisme penempatan radiofarmaka  dalam tubuh adalah :&lt;br /&gt;1. Active transport : Secara aktif sel-sel organ tubuh, memindahkan radiofarmaka dari darah ke dalam organ tertentu, selanjutnya mengikuti proses metabolisme atau dikeluarkan dari tubuh. Contoh : I-131 akan ditransfer ke sel-sel thyroid untuk pembuatan T3 dan T4,  Tc-99m IDA dan I-131 Rose Bengal oleh sel poligonal hati ditransfer dari darah kemudian diekskresi ke usus halus, lewat saluran empedu, I-131 Hippuran diekskresi oleh tubulus sehingga dapat untuk pemeriksaan ginjal.&lt;br /&gt;2. Phogocytosis : Beberapa Radionuklida seperti Tc-99m, In-113m atau Au-198 jika diikat oleh pembawa materi berbentuk”koloid” maka radiofarmaka ini akab difagosit oleh RES tubuh. Bila radiofarmaka ini disuntikkan secara Intra Vena maka dapat memeriksa scanning liver, limpa, dan sumsum tulang, jika disuntikkan secara subcutan untuk memeriksa kelenjar getah bening.&lt;br /&gt;3. Cell Sequestration (pengasingan sel) : Sel darah merah yang ditandai Cr-51 dan dipanaskan 50 derajat celcius selama 1 menit, lalu dimasukkan ke tubuh penderita secara intravena maka akan diasingkan ke limpa untuk pemeriksaan scanning limpa.&lt;br /&gt;4. Capillary Blockage (Penghalang Kapiler) : Bila pembawa materi berbentuk makrokoloid (dengan ukuran 20-30 mikron) dan disuntikkan secara intravena maka akan menjadi penghalang kapiler di paru-paru. Contoh ; Tc-99m MAA untuk scanning perfusi hati&lt;br /&gt;5. Simple or Exchanged Diffusion (pertukaran difus) : Radiofarmaka tersebut akan saling bertukar tempat dengan senyawa yang sama dari organ tubuh, contoh ; Polifosfat bertanda Tc-99m (Tc-99m MDP) akan bertukar tempat dengan senyawa polifosfat tulang dan dalam jangka 2-4 jam Tc-99m MDP akan merata dalam tulang, pemeriksaan untuk mendeteksi lesi otak denagn RIHSA dan cairan interselluler otak.&lt;br /&gt;6. Compartmental Localization (kompartemental) : Bila radiofarmaka dapat menggambarkan blood pool karena keberadaannya yang cukup lama dalam darah maka ikatan ini dapat dipakai untuk scanning jantung dan plasenta (ventrikulografi dan placentografi). Contoh ; RIHSA untuk pemeriksaan plasenta, Cr-51 eritrosit, Tc-99m Sn eritrosit untuk ventrikulografi jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih radiofarmaka uantuk pemeriksaan adalah :&lt;br /&gt;1. Jenis peluruhan radiasi ; Untuk keperluan pemeriksaan eksternal in vivo, sinar-gamma dengan energi 100-500 kev sangat ideal. Karena radiasi dengan energi lebih besar 500 kev akan mampu menembus pelindung dan sekat-sekat pada kolimator sehingga terjadi penurunan spatial resolution. Juga dengan energi sangat kecil (lebih kecil 20 kev) banyak penyerapan foton oleh jaringan sebelum mencapai detektor.  Dengan demikian sinar gamma murni tanpa radiasi partikel yang dibutuhkan untuk diagnostik kedokteran nuklir.&lt;br /&gt;2. Waktu Paruh : meliputi waktu paruh fisik yaitu waktu yang diperlukan zat radioaktif untuk mencapai kativitas setngah dari aktivitas mula-mula, waktu paruh biologis yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan setengah radionuklida murni dari suatu organ tubuh serta waktu paruh efektif yaitu waktu yang diperlukan setengah  zat yang telah dimasukkan ke dalam tubuh.&lt;br /&gt;3. Biological Behaviour : Menyangkut perlakuan organ tubuh terhadap radiofarmaka tersebut., sehingga penting untuk menentukan paparan radiasi dari suatu organ atau untuk mendapatkan hasil interpretasi. Juga dengan menetahui biological behaviuor kita dapat memperkirakan eskresi suatu radiofarmaka.]&lt;br /&gt;4. Aktifitas tertentu (The specific activity) : Bagian radiofarmaka yang berperan memberikan foton yang penting untuk pendeteksian. Sebab dalam suatu materi dapat ditemui bagian yang bersifat non-radioaktif yang dapat merugikan.&lt;br /&gt;5. Jenis Instrument : Berbagai jenis peralatan kedokteran nuklir sengaja didesain hanaya untuk radioisotop yang memiliki enrgi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deteksi radioisotop dapat dibagi dalam 5 kategori :&lt;br /&gt;1. Delution, absoption dan excretion sudies : Bila penderita disuntikkan sejumlah radiofarmaka yang telah diketahui jumlahnya, maka delution yang terjadi atau prosentase absorsi atau kapan dieskresi dapat ditentukan melalui sampel darah, urin, feses dan lain-lain.&lt;br /&gt;2. Concentration sudies : bila suatu radiofarmaka diberikan pada seorang pasien kemudian diukur berapa persen yang ditangkap suatu organ, misal Thyroid Up-take.&lt;br /&gt;3. Dinamic function study : Suatu radiofarmaka dipelajari saat mencapai atau meninggalakan suatu organ. Misal ; pada pemeriksaan cerebral blood flow, renogram.&lt;br /&gt;4. Organ system atau pool Visualization : Setalah radiofarmaka dimasukkan ke dalam tubuh pasien maka distribusinya akan tersaji dalam bentuk gambar. Misalnya pada pemeriksaan scanning otak, cardiac blood pool , Bone scan.&lt;br /&gt;5. In vitro test&lt;br /&gt;6. Radiofarmaka dicampur dengan sampel penderita, misalnya pada pemeriksaan T3 x T4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 macam gambaran yang diperoleh dari hasil scanning :&lt;br /&gt;1. Hot area, artinya daerah abnormal yang menunjukkan kenaikan up take (distribusi yang berlebihan) radiofarmaka. Contoh ; bone scanning dan brain scanning.&lt;br /&gt;2. Pada keadaan dimana radiofarmaka diikat oleh organ tubuh yang normal sehingga pada keadaan abnormal timbul penurunan aktivitas atau cold area. Contoh : scanning liver, thyroid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Instrumentasi Kedokteran Nuklir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini komponen pokok kedokteran nuklir yaitu :&lt;br /&gt;1. Stationary Probe : Baiasanya untuk pemeriksaan : test konsentrasi pada organ maupun dinamic test. Data yang diperoleh, berupa count per unit waktu, atau waktu yang dibutuhkan untuk sejumlah count tertentu.&lt;br /&gt;2. Well Counter : Prinsip kerja sama dengan stationary probe yaitu berupa count per waktu tetapi hanya dikhususkan untuk counting dari sampel berupa urine, darah feces dan lain-lain (in vitro test).&lt;br /&gt;3. Scanner : Menghasilkan gambar 2 dimensi dari distribusi radiofarmaka dalam suatu organ. Dapat juga untuk menilai pada pemeriksaan-pemeriksaan concentration, delution, excretion dan absorbtion. Scanning berupagerakan maju-mundur melalui daerah yang diinginkan sehingga menghasilkan gambar yang tersusun dari garis-garis atau titik-titik. Ukuran dan jumlah kristal detektor NaI menetukan hasil dan kecepatan scanner. Semakin banyak detektor atau semakin besar ukuran kristalnya hasil semakin baik dan waktu scanning makin cepat.&lt;br /&gt;4. Camera : Yaitu alat pencitraan yang dapat menyajikan gambar tanpa menggerakkan detektor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-469112965591244113?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/469112965591244113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=469112965591244113' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/469112965591244113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/469112965591244113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/kedokteran-nuklir.html' title='KEDOKTERAN NUKLIR'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-7844383747122359632</id><published>2008-08-12T02:36:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T02:37:15.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BAHAN KONTRAS'/><title type='text'>BAHAN KONTRAS RADIOGRAFI</title><content type='html'>BAHAN KONTRAS RADIOGRAFI&lt;br /&gt;Bahan Kontras merupakan senyawa-senyawa yang digunakan untuk meningkatkan visualisasi (visibility) struktur-struktur internal pada sebuah pencitraan diagnostic medik.&lt;br /&gt;Bahan kontras dipakai pada pencitraan dengan sinar-X untuk meningkatkan daya attenuasi sinar-X (Bahan kontras positif) yang akan dibahas lebih luas disini atau menurunkan daya attenuasi sinar-X (bahan kontras negative dengan bahan dasar udara atau gas). Selain itu bahan kontras juga digunakan dalam pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging), namun metode ini tidak didasarkan pada sinar-X tetapi mengubah sifat-sifat magnetic dari inti hidrogen yang menyerap bahan kontras tersebut. Bahan kontras MRI dengan sifat demikian adalah Gadolinium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;A. Sejarah&lt;br /&gt;Penggunaan media kontras pada pemerikasaan radiologi bermula dari percobaan Tuffier pada tahun 1897, dimana dalam percobaannya ia memasukkan kawat kedalam ureter melalui keteter., sehingga terjadi bayangan ureter dalam radiograf. Percobaan selanjutnya yaitu dengan menggunakan kontras cair untuk menggambarkan anatomi dari traktus urinarius. Kontras tersebut diantaranya : koloid perak,bismut,natrium iodida,perak iodida, stronsium klorida, dan sebagainya. Berangsur-angsur metode tersebut mulai ditinggalkan karena menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Infeksi, trauma jaringan, terjadinya emboli, dan deposit perak dalam ginjal merupakan akibat sampingan yang tidak bisa dihindari.&lt;br /&gt;Berpijak dari pengalaman-pengalaman terdahulu kemudian para ahli radiologi sepakat untuk megadakan pembaharuan dalam pemakaian media kontras pada pemeriksaan radiologi. Dan pada tahun 1928 seorang ahli urologi, Dr.Moses Swick bekerjasama dengan Prof.Lichtwitz,Binz, Rath, dan Lichtenberg memperkenalkan penemuannya tentang media kontras iodium water-soluble yang digunakan dalam pemeriksaan urografi secara intravena. Media kotras yang berhasil disintesa, diantranya dalah :sodium iodopyridone-N-acetic acid yang disebut Urosectan-B (Iopax), dan sodium oidomethamate yang disebut Uroselectan-B (Neoiopax). Dari segi radiograf kedua macam media kotras tersebut memberikan hasil yang memuaskan, namun dari pasiennya masih menimbulkan efek yang merugikan, yaitu : mual dan muntah. Selanjutnya Dr.Swick dan kawan-kawan melanjutkan usahanya dengan mengembangkan Iodopyracet yang sementara waktu bisa menggantikan kedudukan Neoiopax dalam pemerikasaan Urografi intra vena.&lt;br /&gt;Usaha mengembangkan media kontras pun terus berlanjut. Mulai pertengahan tahun 1950 semua jenis media kontras untuk pemakaian secara intravaskuler untuk pemakaian secara intravaskular mulai mengalami pergantian. Mulai periode ini media kontras intravaskular menggunakan molekul asam benzoat sebagai bahan dasarnya dengan mengikat tiga atom iodium. Dari hasil uji coba membuktikan bahwa media kontras jenis ini memiliki kelebihan dibanding dengan jenis media kontras sebelumnya. Jenis media kontras tersebut diantarannya ; acetrizoate dibuat tahun 1950, diatrizoate tahun 1954, metrizoate tahun 1961, iothalamate tahun 1962, iodamide tahun 1965 dan ioxithalamate tahun 1968. Akhirnya media kontras yang dapat pula digunakan secara intravaskular secara kontinyu terus mengalami penyempurnaan.&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian membuktikan bahwa ionisitas dan osmolalitas merupakan kunci utama terjadinya keracunan pada pasien. Kemudian mulai tahun 1969 dr.Torsten Almen mengembangkan jenis media kontras non-ionik dengan osmolalitas yang cukup rendah. Mula-mula ia mengadakan penelitian terhadap keluarga Metrizamide yang sebelumnya dipakai pada pemeriksaan mielografi. Dengan diciptakannya media kontras water soluble untuk pemeriksaaan mielografi, penggunaan secara intravaskular mulai dipelajari. Hasil akhir penelitian memberikan jalan yang terbaik untuk segala macam pemeriksaan radiologi yang menggunakan media kontras iodium non-ionik water-soluble secara intravaskular&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis bahan baku dasar dari bahan kontras positif yang digunakan dalam pemeriksaan dengan sinar-X yaitu barium dan iodium. Sebuah tipe bahan kontras lain yang sudah lama adalah Thorotrast dengan senyawa dasar thorium dioksida, tapi penggunaannya telah dihentikan karena terbukti bersifat karsinogen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Barium sulfat&lt;br /&gt;Bahan kontras barium sulfat, berbentuk bubuk putih yang tidak larut. Bubuk ini dicampur dengan air dan beberapa komponen tambahan lainnya untuk membuat campuran bahan kontras. Bahan ini umumnya hanya digunakan pada saluran pencernaan; biasanya ditelan atau diberikan sebagai enema. Setelah pemeriksaan, bahan ini akan keluar dari tubuh bersama dengan feces. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Bahan kontras Iodium&lt;br /&gt;Bahan kontras iodium bisa terikat pada senyawa organik (non-ionik) atau sebuah senyawa ionic. Bahan-bahan ionic dibuat pertama kali dan masih banyak digunakan dengan tergantung pada pemeriksaan yang dimaksudkan. Bahan-bahan ionic memiliki profil efek samping yang lebih buruk. Senyawa-senyawa organik memiliki efek samping yang lebih sedikit karena tidak berdisosiasi dengan molekul-molekul komponen. Banyak dari efek samping yang diakibatkan oleh larutan hyperosmolar yang diinjeksikan, yaitu zat-zat ini membawa lebih banyak atom iodine per molekul. Semakin banyak iodine, maka daya attenuasi sinar-X bertambah. Ada banyak molekul yang berbeda. Media kontras yang berbasis iodium dapat larut dalam air dan tidak berbahaya bagi tubuh. Bahan-bahan kontras ini banyak dijual sebagai larutan cair jernih yang tidak berwarna. Konsentrasinya biasanya dinyatakan dalam mg I/ml. Bahan kontras teriodinasi modern bisa digunakan hampir di semua bagian tubuh. Kebanyakan diantaranya digunakan secara intravenous, tapi untuk berbagai tujuan juga bisa digunakan secara intraarterial, intrathecal (tulang belakang) dan intraabdominally – hampir pada seluruh rongga tubuh atau ruang yang potensial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bentuk dan Susunan Kimia&lt;br /&gt;. Berdasarkan tahap-tahap perkembangannya, bentuk dan susunan kimia media kontras iodium dapat dibedakan menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sebelum tahun 1950&lt;br /&gt;Pada periode ini semua media kontras iodium bersifat ionik, dimana dalam susunan kimianya terdapat ikatan ion. Ion-ion penyusun media kontras tersebut terdiri dari ; kation dan anion. Adapun contoh bentuk-bentuk media kontras intravaskular yang disintesa sebelum tahun 1950 adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblmrOna7I/AAAAAAAAAIo/NsmM4pqcw5Q/s1600-h/bk1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblmrOna7I/AAAAAAAAAIo/NsmM4pqcw5Q/s400/bk1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230620469839227826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;b. Pertengahan Tahun 1950&lt;br /&gt;Mulai pertengahan tahun 1950 ditetapkan penggunaan bahan dasar molekul benzoat yang setiap molekulnya mengikat tiga atom iodium. Pada tahap ini perkembangan dibagi menjadi :&lt;br /&gt;1). Bahan Kontras Ionik&lt;br /&gt;Ion-ion penyusun media kontras terdiri dari kation (ion bermuatan positif) dan anion (ion bermuatan negatif). Kation terikat pada asam radikal (-COO-) rantai C1 cincin benzena. Kation juga memberikan karakteristik media kontras, dimana setiap jenis memberikan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Ada beberapa macam kation yang digunakan dalam media kontras, di antaranya :&lt;br /&gt;a). Sodium (Natrium)&lt;br /&gt;Sifat sodium dalam media kontras adalah menurunkan kekentalan (viskositas), dan lebih sedikit menimbulkan reaksi anafilaksis karena dapat mengurangi mnuculnya zat histamin yang mengakibatkan reaksi alergis. Di lain pihak sodium bersifat lebih korosif terhadap sel endotelium dan parenkim organ tertentu, sehingga lebih toksik dari pada zat lain.&lt;br /&gt;b). Meglumine ( NMG ; N-Methylglucamine)&lt;br /&gt;Meglumine memiliki sifat toksik yang lebih kecil dibanding sodium, akan tetapi meglumine memberikan efek diuretik (mengurangi konsentrasi iodium dalam urin). Pada jenis asam dan konsentrasi yang sama meglumine lebih kecil menimbulkan kenaikan tekanan darah, bradikardia, dan konvulsi dibanding sodium.&lt;br /&gt;c). Ethanolamine&lt;br /&gt;Zat ini memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh sodium maupub meglumine, yaitu tidak mempunyai sifat racun dan memiliki viskositas yang rendah, tetapi zat ini menimbulkan vasodilatasi yang cukup kuat.&lt;br /&gt;Selain bahan tersebut diatas kadang-kadang pula digunakan kation dari calsium (Ca) dan magnesium (Mg).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh sifat media kontras yang dikehendaki pada pemeriksann radiologi tertentu biasanya dilakukan penggabungan antara beberapa jenis kation dalam satu jenis media kontras.&lt;br /&gt;(1). Bahan Kontras Ionik Monomer&lt;br /&gt;Bahan Kontras ionik manomer merupakan bentuk bahan kontras ionik yang memiliki satu buah cincin asam benzoat dalam satu molekul&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblm3k6xRI/AAAAAAAAAIw/39etR-YRuUk/s1600-h/bk2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblm3k6xRI/AAAAAAAAAIw/39etR-YRuUk/s400/bk2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230620473153996050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblm_COBCI/AAAAAAAAAI4/cpGE2VHWAlo/s1600-h/bk3.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblm_COBCI/AAAAAAAAAI4/cpGE2VHWAlo/s400/bk3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230620475155940386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblnLZqIpI/AAAAAAAAAJA/LL8DfHLbpBQ/s1600-h/bk4.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblnLZqIpI/AAAAAAAAAJA/LL8DfHLbpBQ/s400/bk4.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230620478475477650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(1). Bahan Kontras Ionik dimer&lt;br /&gt;Merupakan media kontras ionik yang memiliki dua buah cincin asam benzoat dalam satu molekul. Salah satu contoh bentuk dan susunan kimia jenis bahan kontras ini adalah Ioxaglate (Hexabrix) yang merupakan media kontras ionik dimer pertama dibuat ;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblnM98q7I/AAAAAAAAAJI/xO_YfQpEj0E/s1600-h/bk5.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblnM98q7I/AAAAAAAAAJI/xO_YfQpEj0E/s400/bk5.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230620478896122802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2). Bahan Kontras Non-ionik.&lt;br /&gt;Du dalam susunan kimia media kontras non-ionik sudah tidak dijumpai lagi adanya ikatan ion antar atom penyusun molekul. Kalau dalam media kontras ionik terdapat dua partikel penyususn molekul (kation dan anion) maka dalam bahan kontras non-ionik hanya ada satu partikel penyusun molekul sehingga memiliki karakteristik tersendiri. &lt;br /&gt;b). Bahan kontras Non-ionik Manomer&lt;br /&gt;Bahan kontras ini berasal dari media kontras ionik monomer yang dibentuk dengan mengganti gugus karboksil oleh gugus radikal non-ionik yaitu amida (-CONH2). &lt;br /&gt;2). Bahan Kontras Non-ionik Dimer&lt;br /&gt;Pembentukan struktur kimia bahan kontras ini melalui proses penggantian pada gugus karboksil media kontras ionik dimer juga oleh gugus radikal non-ionik, yang pada kahir sisntesa menghasilkan perbandingan iodium terhadap partikel media kontras 6 : 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan kontras iodium yang umum digunakan&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJbnSIac96I/AAAAAAAAAJQ/1LMWTwtr0GQ/s1600-h/bk6.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJbnSIac96I/AAAAAAAAAJQ/1LMWTwtr0GQ/s400/bk6.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230622315919505314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Osmolalitas&lt;br /&gt;Konsentrasi molekul yang secara aktif memberikan tekanan osmotik larutan, sehingga memberikan kemampuan suatu pelarut (air) melewati suatu membran. Dapat dinyatakan dengan milliosmol per liter (osmolaritas) atau milliosmol per kilogram Air (H2O) pada suhu 37oC (Osmolalitas).&lt;br /&gt;Osmolalitas tidak dipengaruhi oleh ukuran partikel namun nilainya tergantung dari ; Jumlah partikel dan konsentrasi iodium. Bahan kontras ionik memiliki jumlah partikel lebih besar daripada bahan kontras non-ionik karena dalam media kontras ionik terdapat dua partikel (kation dan anion) sehingga osmolalitas dua kali lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJbo6P2MyzI/AAAAAAAAAJY/w_-X_eaIcaQ/s1600-h/a.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJbo6P2MyzI/AAAAAAAAAJY/w_-X_eaIcaQ/s400/a.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230624104621329202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Efek Samping &lt;br /&gt;Bahan Kontras iodium yang modern merupakan obat-obat yang aman; reaksi-reaksi berbahaya bisa terjadi tapi tidak umum. Efek samping utama dari radiokontras adalah reaksi anafilaktif dan nefropati .&lt;br /&gt;Reaksi-Reaksi Anafilaktif&lt;br /&gt;Reaksi-reaksi anafilaktif jarang terjadi (Karnegis dan Heinz, 1979 dkk., 1987; Greenberger dan Patterson, 1998), tapi bisa terjadi sebagai respon terhadap bahankontras yang disuntikkan atau yang diberikan lewat mulut dan rectal dan bahkan memperburuk pyelografi. Gejalanya mirip dengan reaksi-reaksi anafilaksis, tapi tidak diakibatkan oleh respon kekebalan yang diperantarai IgE. Pasien-pasien yang memiliki riwayat reaksi-reaksi kontras, berisiko tinggi untuk mengalami reaksi-reaksi anafilaktif (Greenberger dan Patterson, 1988; Lang dkk., 1993). Pengobatan dini dengan kortikosteroid telah terbukti dapat mengurangi kejadian reaksi-reaksi yang berbahaya (Lasser dkk., 1988; Greenberger dkk., 1985; Wittbrodt dan Spinler, 1994). &lt;br /&gt;Reaksi-reaksi anafilaktif bisa mulai dari urticaria dan gatal-gatal, sampai bronchospasma dan edema facial dan laryngeal. Untuk kasus-kasus urtikaria yang sederhana dan gatal-gatal, Benadryl (diphenhydramine) lewat mulut atau IV (intravenous) bisa diberikan. Untuk reaksi-reaksi yang lebih parah, antara lain bronchospasma dan edema leher atau wajah dapat diberikan inhaler albuterol, atau epinefrin IV atau subcutaneous, ditambah diphenhydramine mungkin diperlukan. Jika respirasi terganggu, saluran udara harus dibebaskan .&lt;br /&gt;Nefropati yang Ditimbulkan oleh Medium Kontras &lt;br /&gt;Nefropati oleh media kontras dapat ditimbulkan baik oleh peningkatan kreatinin darah lebih besar dari 25% atau peningkatan mutlak kreatinin darah yang mencapai 0,5 mg/dL. Ada tiga faktor yang terkait dengan meningkatnya risiko nefropati yang dipengaruhi oleh medium kontras, yaitu: gangguan ginjal sebelumnya (seperti penurunan kadar kreatinin &lt; 60 mL/menit (1.00 mL/detik), diabetes yang telah ada sebelumnya, dan volume intravascular yang berkurang (McCullough, 1997); Scanlon dkk., 1999). Osmolalitas bahan kontras diyakini sangat berperan dalam nefropati. Idealnya, bahan kontras harus isoosmolar terhadap darah. Bahan kontras beriodium yang modern biasanya nonionic, tipe-tipe ionic yang terdahulu biasa menyebabkan efek yang lebih berbahaya dan tidak digunakan lagi. Untuk meminimalisir risiko terjadinya nefropati akibat medium kontras, maka berbagai tindakan bisa dilakukan yang kesemuanya telah dianalisis dalam sebuah meta-analisis yaitu : 1. Dosis media kontras harus diupayakan serendah mungkin, meski masih mampu ditmabhkan untuk melakukan pemeriksaan . 2. Bahan kontras bersifat non ionic 3. Media kontras yang nonionic dan iso-osmolar. Salah satu percobaan terkontrol acak menemukan bahwa sebuah bahan kontras nonionic iso-osmolar lebih baik dibanding media kontras non-ionik low-osmolar. 4. Hydrasi cairan intravenous dengan larutan garam. Masih ada pertentangan tentang cara yang paling efektif untuk hidrasi cairan intravenous. Salah satu metode adalah 1 mg/kg per jam selama 6-12 jam sebelum dan setelah pemberian kontras. 5. Hidrasi fluida intravenous dengan larutan garam ditambah sodium bikarbonat. Sebagai sebuah alternatif bagi hydrasi intravenous dengan larutan garam biasa, pemberian sodium bikarbonat 3 mL/kg per jam selama 1 jam sebelumnya, diikuti dengan 1 mL/kg per jam selama 6 jam setelah pemberian bahan kontras diketahui lebih baik ketimbang larutan garam biasa pada salah satu percobaan terkontrol acak. Ini selanjutnya didukung dengan sebuah percobaan terkontrol acak multi-senter, yang juga menunjukkan bahwa hydrasi intravenous dengan sodium bikarbonat lebih baik terhadap 0,9% larutan garam normal. Efek renoprotektif dari bikarbonat dianggap diakibatkan oleh alkalinisasi urin, yang menciptakan sebuah lingkungan yang lebih rentan terhadap pembentukan radikal bebas yang berbahaya. 6. N-asetilcystein (NAC). NAC, 600 mg secara oral dua kali sehari, pada hari sebelum selama prosedur jika pelepasan kreatinin diperkirakan lebih kecil dari 60 mL/menit (1,00 mL/detik). Sebuah percobaan terkontrol acak menemukan dosis NAC yang lebih tinggi (1200 mg IV bolus dan 1200 mg secara oral dua kali sehari selama 2 hari) dapat membantu (pengurangan risiko relatif sebesar 74%) pasien yang menerima angioplasty koroner dengan volume kontras yang lebih tinggi. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa N-asetilcystein melindungi ginjal dari efek toksik bahan kontras (Gleeson &amp; Bulugahapitiya 2004). Efek ini, tidak merata, beberapa peneliti (seperti Hoffman dkk., 2004) telah mengklaim bahwa efek ini diakibatkan oleh gangguan dengan uji laboratorium kreatinin itu sendiri. Ini didukung oleh kurangnya korelasi antara kadar-kadar kreatinin dan kadar cystatin C. Agen-agen farmakologis lain, seperti furosemida, mannitol, theophylline, aminophylline, dopamine, dan atrial natriuretic peptide telah dicoba, tapi belum ada efek menguntungkan atau justru memiliki efek yang membahayakan (Solomon dkk., 1994; Abizaid dkk., 1999). Reaksi Kemotoksik Pasien yang memiliki kelainan pada kelenjar gondok sering mengalami reaksi kemotoksik setelah menjalani pemeriksaan dengan bahan kontras. Sebenarnya atom iodium yang terikat kuat dalam senyawa bahan kontras tidak memberikan pengaruh yang besar. Ia hanya sensitif terhadap ion iodida bebas yang sedikit banyak terdapat dalam bahan kontras. Kenaikan intake iodida inilah yang menyebabkan tirotoksikosis. Kontribusi makanan-laut dan alergi-alergi lain Disini harus ditekankan bahwa dugaan tentang “alergi” makanan laut, yang seringkali lebih didasarkan pada mitos dibanding fakta, bukanlah sebuah kontraindikasi yang cukup terhadap penggunaan bahan kontras beriodum. Sebuah hubungan antara kadar iodium dalam makanan laut dan alergi akibat makanan laut merupakan bagian dari bidang medis. Meski kadar iodine dalam makanan laut lebih tinggi dibanding pada makanan non-laut, namun konsumsi yang terakhir ini melebihi yang pertama dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kandungan iodine makanan laut terkait dengan reaksi-reaksi terhadap makanan-laut (Coakley dan Panicek, 1997). Data yang ada menunjukkan alergi akibat makanan laut dapat meningkatkan risiko sebuah reaksi yang diperantarai bahan kontras dengan jumlah yang kira-kira sama seperti alergi terhadap buah atau sama dengan yang menyebabkan asma (Shehadi, 1975). Dengan kata lain, lebih dari 85% pasien yang mengalami alergi makanan-laut tidak akan memiliki reaksi yang berbahaya terhadap kontras beriodium (Coakley dan Panicek, 1997). Terakhir, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa reaksi-reaksi kulit yang berbahaya terhadap antiseptic-antiseptik topikal yang mengandung iodium (seperti betadin, povidin) yang banyak hubungannya dengan pemberian bahan kontras IV (Coakley dan Panicek, 1997; can Ketel dan van den Berg, 1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadolinium&lt;br /&gt;Gadolinium adalah unsur kimia yang dalam tabel sistem periodik memiliki simbol Gd dengan nomor atom 64. Gadolinium menjadi superconductive dibawah suatu temperatur kritis1.083 K. Dan merupakan strongly magnetic pada suhu ruang, dan menunjukkan sifat ferromagnetic dibawah suhu ruang.&lt;br /&gt;Gadolinium memperlihatkan efek magnetocaloric yaitu peningkatan temperature ketika berada dalam medan magnet dan menurun ketika meninggalkan medan magnet. Diakrenakan sifat paramagnetiknya larutan organic gadolinium kompleks dan senyawa gadolinium digunakan secara intravenous sebagai bahan kontras untuk keperluan pencitraan medis magnetic resonance imaging (MRI) . Kontras gambar yang dihasilkan Gadolinium pada MRI dipengaruhi oleh perubahan variasi T1 dan T2 jaringan. Nilai T1 dan T2 diubah oleh perubahan jumlah fluktuasi medan magnet dekat sebuah inti. Medan paramagnetik oleh gadolinium menghasilkan banyak osilasi medan . Pada umumnya kontras gambar pada MRI diperoleh oleh satu jaringan yang memiliki afinitas yang lebih tinggi (gaya tarik menarik) atau vaskularisasi yang lebih banyak dibandingkan jaringan lain. Sebagai contoh tumor memiliki Gd uptake yang lebih besar dibandingkan jaringan disekitarnya menyebabkan T1 tumor lebih singkat sehinga signal yang dihasilkan lebih kuat.&lt;br /&gt;Disamping MRI, gadolinium (Gd) juga digunakan dalam teknik pencitraan lain. Pada pemeriksaan dengan sinar-X, gadolinium terdapat dalam lapisan phosphor terdapat dalam suatu polymer matrix pada detector. Terbium-doped gadolinium oxysulfide (Gd2O2S: Tb) pada lapisan phosphor mengubah sinar-X menjadi cahaya nampak. Gd dapat memancarkan cahaya dengan panjang gelombang 540nm (spektrum cahaya hijau = 520 – 570nm), yang bermanfaaat pada penggunaan dalam photographic film. &lt;br /&gt;Gadolinium oxyorthosilicate (GSOadalah sebuah kristal tunggal yang digunakan sebagai scintillator pada peralatan pencitraan medis seperti Positron Emission Tomography (PET). scintillator lain yang terbaru untuk mendeteksi neutron adalah cerium-doped gadolinium orthosilicate (GSO - Gd2SiO5:Ce).&lt;br /&gt;Di masa yang akan datang, gadolinium ethyl sulfate, yang memiliki karakteristik noise yang sangat rendah, dapat digunakan dalam masers. Selanjutnya gadolinium's high magnetic movement dan low Curie temperature (yang hanya pada suhu ruang) merupakan aplikasi komponen magnetic untuk menindera panas dan dingin.Menyebabkan extremely high neutron cross-section of gadolinium, elemen ini sanagt efektif digunakan pada neutron radiography.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-7844383747122359632?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/7844383747122359632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=7844383747122359632' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/7844383747122359632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/7844383747122359632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/bahan-kontras-radiografi_12.html' title='BAHAN KONTRAS RADIOGRAFI'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJblmrOna7I/AAAAAAAAAIo/NsmM4pqcw5Q/s72-c/bk1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-7454711161292214719</id><published>2008-08-12T02:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T02:22:58.836-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EFEK RADIASI'/><title type='text'>EFEK RADIASI</title><content type='html'>EFEK RADIASI PENGION TERHADAP TUBUH MANUSIA&lt;br /&gt;Sel dalam tubuh manusia terdiri dari sel genetic dan sel somatic. Sel genetic adalah sel telur pada perempuan dan sel sperma pada laki-laki, sedangkan sel somatic adalah sel-sel lainnya yang ada dalam tubuh. Berdasarkan jenis sel, maka efek radiasi dapat dibedakan atas efek genetik dan efek somatik. Efek genetik atau efek pewarisan adalah efek yang dirasakan oleh keturunan dari individu yang terkena paparan radiasi. Sebaliknya efek somatik adalah efek radiasi yang dirasakan oleh individu yang terpapar radiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang dibutuhkan sampai terlihatnya gejala efek somatik sangat bervariasi sehingga dapat dibedakan atas efek segera dan efek tertunda. Efek segera adalah kerusakan yang secara klinik sudah dapat teramati pada individu dalam waktu singkat setelah individu tersebut terpapar radiasi, seperti epilasi (rontoknya rambut), eritema (memerahnya kulit), luka bakar dan penurunan jumlah sel darah. Kerusakan tersebut terlihat dalam waktu hari sampai mingguan pasca iradiasi. Sedangkan efek tertunda merupakan efek radiasi yang baru timbul setelah waktu yang lama (bulanan/tahunan) setelah terpapar radiasi, seperti katarak dan kanker.&lt;br /&gt;Bila ditinjau dari dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek radiasi dibedakan atas efek deterministik dan efek stokastik. Efek deterministik adalah efek yang disebabkan karena kematian sel akibat paparan radiasi, sedangkan efek stokastik adalah efek yang terjadi sebagai akibat paparan radiasi dengan dosis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sel. &lt;br /&gt;Efek Deterministi (efek non stokastik) Efek ini terjadi karena adanya proses kematian sel akibat paparan radiasi yang mengubah fungsi jaringan yang terkena radiasi. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat dari paparan radiasi pada seluruh tubuh maupun lokal. Efek deterministik timbul bila dosis yang diterima di atas dosis ambang (threshold dose) dan umumnya timbul beberapa saat setelah terpapar radiasi. Tingkat keparahan efek deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima lebih besar dari dosis ambang yang bervariasi bergantung pada jenis efek. Pada dosis lebih rendah dan mendekati dosis ambang, kemungkinan terjadinya efek deterministik dengan demikian adalah nol. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di atas dosis ambang, peluang terjadinya efek ini menjadi 100%.&lt;br /&gt;Efek Stokastik Dosis radiasi serendah apapun selalu terdapat kemungkinan untuk menimbulkan perubahan pada sistem biologik, baik pada tingkat molekul maupun sel. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak membunuh sel tetapi mengubah sel Sel yang mengalami modifikasi atau sel yang berubah ini mempunyai peluang untuk lolos dari sistem pertahanan tubuh yang berusaha untuk menghilangkan sel seperti ini. Semua akibat proses modifikasi atau transformasi sel ini disebut efek stokastik yang terjadi secara acak. Efek stokastik terjadi tanpa ada dosis ambang dan baru akan muncul setelah masa laten yang lama. Semakin besar dosis paparan, semakin besar peluang terjadinya efek stokastik, sedangkan tingkat keparahannya tidak ditentukan oleh jumlah dosis yang diterima. Bila sel yang mengalami perubahan adalah sel genetik, maka sifat-sifat sel yang baru tersebut akan diwariskan kepada turunannya sehingga timbul efek genetik atau pewarisan. Apabila sel ini adalah sel somatik maka sel-sel tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama, ditambah dengan pengaruh dari bahan-bahan yang bersifat toksik lainnya, akan tumbuh dan berkembang menjadi jaringan ganas atau kanker. Paparan radiasi dosis rendah dapat menigkatkan resiko kanker dan efek pewarisan yang secara statistik dapat dideteksi pada suatu populasi, namun tidak secara serta merta terkait dengan paparan individu.&lt;br /&gt;Respon dari berbagai jaringan dan organ tubuh terhadap radiasi pengion sangat bervariasi. Selain bergantung pada sifat fisik radiasi juga bergantung pada karakteristik biologi dari sel penyusun jaringan/organ tubuh terpajan. Tingkat sensitivitas dari jaringan penyusun organ berbeda-beda bergantung antara lain pada tingkatproliferasi (pembelahan) dan diferensiasi (kematangan) sel yang akhirnya akan mempengaruhi tingkat sensitivitas dari organ terhadap pajanan radiasi. Berikut ini adalah efek radiasi pada sebagian organ tubuh akibat pajanan radiasi eksterna (dari luar tubuh) yang terjadi secara akut.&lt;br /&gt;1. Sistem pembentukan darah&lt;br /&gt;Sumsum tulang adalah organ sasaran dari sistem pembentukan darah karena pajanan radiasi dosis tinggi akan mengakibatkan kematian dalam waktu beberapa minggu. Hal ini disebabkan karena terjadinya penurunan jumlah sel basal pada sumsum tulang secara tajam. Komponen sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (limfosit dan granulosit) dan sel keping darah (trombosit). &lt;br /&gt;Dosis sekitar 0,5 Gy pada sumsum tulang sudah dapat menyebabkan penekanan proses pembentukan komponen sel darah sehingga jumlahnya mengalami penurunan. Jumlah sel limfosit menurun dalam waktu beberapa jam pasca pajanan radiasi, sedangkan jumlah granulosit dan trombosit juga menurun tetapi dalam waktu yang lebih lama, beberapa hari atau minggu. Sementara penurunan jumlah eritrosit terjadi lebih lambat, beberapa minggu kemudian. Penurunan jumlah sel limfosit absolut/total dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat keparahan yang mungkin diderita seseorang akibat pajanan radiasi akut. &lt;br /&gt;Pada dosis yang lebih tinggi, individu terpajan mengalami kematian sebagai akibat dari infeksi karena menurunan jumlah sel darah putih (limfosit dan granulosit) atau dari pendarahan yang tidak dapat dihentikan karena menurunnya jumlah trombosit.&lt;br /&gt;Efek stokastik pada sumsum tulang adalah leukemia dan kanker sel darah merah. Berdasarkan pengamatan pada para korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, leukemia merupakan efek stokastik tertunda pertama yang terjadi setelah pajanan radiasi seluruh tubuh dengan masa laten sekitar 2 tahun dengan puncaknya setelah 6 – 7 tahun.&lt;br /&gt;2. Kulit&lt;br /&gt;Efek deterministik pada kulit bervariasi dengan besarnya dosis. Pajanan radiasi sekitar 2-3 Gy dapat menimbulkan efek kemerahan (eritema) sementara yang timbul dalam waktu beberapa jam. Beberapa minggu kemudian, eritema akan kembali muncul sebagai akibat dari hilangnya sel-sel basal pada epidermis. Dosis sekitar 3 – 8 Gy menyebabkan terjadinya kerontokan rambut (epilasi) dan pengelupasan kering (deskuamasi kering) dalam waktu 3 – 6 minggu setelah pajanan radiasi. Pada dosis yang lebih tinggi, 12 – 20 Gy, akan mengakibatkan terjadinya pengelupasan kulit disertai dengan pelepuhan dan bernanah (blister) serta peradangan akibat infeksi pada lapisan dalam kulit (dermis) sekitar 4 – 6 minggu kemudian. Kematian jaringan (nekrosis) dalam waktu 10 minggu pemajanan radiasi dengan dosis lebih besar dari 20 Gy, sebagai akibat dari kerusakan yang parah pada pembuluh darah. Bila dosis yang di terima sekitar 50 Gy, nekrosis akan terjadi dalam waktu yang lebih singkat yaitu sekitar 3 minggu.&lt;br /&gt;3. Mata&lt;br /&gt;Mata terkena pajanan radiasi baik akibat dari radiasi lokal (akut atau protraksi) maupun pajanan radiasi seluruh tubuh. Lensa mata merupakan bagian dari struktur mata yang paling sensitif terhadap radiasi. Terjadinya kekeruhan atau hilangnya sifat transparansi lensa mata sudah mulai dapat dideteksi setelah pajanan radiasi yang relatif rendah yaitu sekitar 0,5 Gy dan bersifat akumulatif. Dengan demikian tidak seperti efek deterministik pada organ lainnya, katarak tidak akan terjadi beberapa saat setelah pajanan, tetapi setelah masa laten antara 6 bulan sampai 35 tahun, dengan rerata sekitar 3 tahun.&lt;br /&gt;4. Organ reproduksi&lt;br /&gt;Efek deterministik pada organ reproduksi atau gonad adalah sterilitas atau kemandulan. Pajanan radiasi pada testis akan mengganggu proses pembentukan sel sperma yang akhirnya akan mempengaruhi jumlah sel sperma yang akan dihasilkan. Dosis radiasi 0,15 Gy merupakan dosis ambang terjadinya sterilitas yang bersifat sementara karena sudah mengakibatkan terjadinya penurunan jumlah sel sperma selama beberapa minggu. Sedangkan dosis ambang sterilitas yang permanen berdasarkan ICRP 60 adalah 3,5 – 6 Gy. Semakin besar dosis yang di terima testis, semakin banyak jumlah penurunan sel sperma dan semakin lama waktu pulih kembali normal, selama belum mencapai dosis ambang kemandulan permanen.&lt;br /&gt;Pengaruh radiasi pada sel telur sangat bergantung pada usia. Semakin tua usia, semakin sensitif terhadap radiasi karena semakin sedikit sel telur yang masih tersisa dalam ovarium. Selain sterilitas, radiasi dapat menyebabkan menopuse dini sebagai akibat dari gangguan hormonal sistem reproduksi. Dosis ambang sterilitas menurut ICRP 60 adalah 2,5 – 6 Gy. Pada usia yang lebih muda (20-an), sterilitas permanen terjadi pada dosis yang lebih tinggi yaitu mencapai 12 – 15 Gy.&lt;br /&gt;Efek stokastik pada sel germinal lebih dikenal dengan efek pewarisan yang terjadi karena mutasi pada gen atau kromosom sel pembawa keturunan (sel sperma dan sel telur). Perubahan kode genetik akan diwariskan pada keturunan individu terpajan. Penelitian pada hewan dan tumbuhan menunjukkan bahwa efek yang terjadi bervariasi dari ringan hingga kehilangan fungsi atau kelainan anatomik yang parah bahkan kematian prematur.&lt;br /&gt;5. Paru&lt;br /&gt;Paru dapat terkena pajanan radiasi secara eksterna dan interna. Efek deterministik berupa pneumonitis biasanya mulai timbul setelah beberapa minggu atau bulan. Efek utama adalah pneumonitis interstisial yang dapat diikuti dengan terjadinya fibrosis sebagai akibat dari rusaknya sel sistim vaskularisasi kapiler dan jaringan ikat, yang dapat berakhir dengan kematian. Kerusakan sel yang mengakibatkan terjadinya peradangan akut paru ini biasanya terjadi pada dosis 5 – 15 Gy. Perkembangan tingkat kerusakan sangat bergantung pada volume paru yang terkena radiasi dan laju dosis. Hal ini juga dapat terjadi setelah inhalasi partikel radioaktif dengan aktivitas tinggi dan waktu paro pendek.&lt;br /&gt;Efek stokastik berupa kanker paru. Keadaan ini banyak dijumpai pada para penambang uranium. Selama melakukan aktivitasnya, para pekerja menginhalasi gas Radon-222 secara berkesinambungan sebagai hasil luruh dari uranium. Di dalam paru, radon selama proses peluruhannya sampai mencapai bentuk stabil yaitu timbal, akan melepaskan partikel alpa yang sangat berbahaya sebagai sumber pajanan radiasi interna.&lt;br /&gt;6. Sistem Pencernaan&lt;br /&gt;Bagian dari sistim ini yang paling sensitif terhadap radiasi adalah usus halus. Kerusakan pada saluran pencernaan menimbulkan gejala mual, muntah, diare, dan gangguan sistem pencernaan dan penyerapan makanan. Dosis radiasi yang tinggi dapat mengakibatkan kematian karena dehidrasi akibat muntah dan diare yang parah. Efek stokastik yang timbul berupa kanker pada epitel saluran pencernaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJbqE9jXnEI/AAAAAAAAAJg/TKoyJ0Kc4II/s1600-h/efek.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJbqE9jXnEI/AAAAAAAAAJg/TKoyJ0Kc4II/s400/efek.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230625388200696898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-7454711161292214719?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/7454711161292214719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=7454711161292214719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/7454711161292214719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/7454711161292214719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/efek-radiasi.html' title='EFEK RADIASI'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_urChPu-FDHc/SJbqE9jXnEI/AAAAAAAAAJg/TKoyJ0Kc4II/s72-c/efek.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-3610109037401816267</id><published>2008-08-12T02:13:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T02:19:18.037-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DASAR-DASAR MRI'/><title type='text'>DASAR-DASAR TEKNIK PENCITRAAN MRI ( MAGNETIC RESONANCE IMAGING )</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENDAHULUAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pencitraan resonansi magnetik atau lazim disebut MRI ( singkatan dari Magnetic Resonance Imaging ) awalnya disebut NMR ( Nuclear Magnetic Resonance). Hal ini disebabkan dasar pencitraan bersumber pada pemanfaatan inti atom ( Nucleus ) positif ( proton ) yang berinteraksi dengan gelombang radio dalam medan magnet yang kuat. Namun karena presepsi masyarakat luas yang negatif jika menggunakan istilah “ nuklir “ yang merupakan dampak dari taruma dari penggunaan energi nuklir dalam bidang militer maka NMR tidak dipopulerkan dan diganti menjadi MRI.&lt;br /&gt;Saat ini pemeriksaan MRI berkembang sangat pesat karena selain mampu menyajikan informasi diagnostik dengan tingkat akurasi yang tinggi, juga bersifat non-invasive ( Non-Traumatis ), tidak ada bahaya radiasi ( Radiation Hazard ) serta menyuguhkan gambar – gambar organ dari berbagai irisan ( Multi planar ) tanpa memanipulasi tubuh pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;PENGETAHUAN DASAR SISTEM MAGNET&lt;br /&gt;Magnet pertama kali ditemukan di Asia ( Magnesia ) kira-kira 2640 tahun sebelum masehi dan berwujud batu-batu magnet. Oleh karena banyaknya magnit alam tidak seberapa dan demikian juga kekuatan unsur-unsur kemagnitannya yang kecil sekali, maka magnet alam ini tidak banyak digunakan lagi.&lt;br /&gt;Magnet buatan atau magnet artificial dapat dibuat dari baja yang digosok-gosokan dengan batang magnit atau dengan memasukan baja itu kedalam kumparan&lt;br /&gt;yang dialiri arus listrik searah ( DC ). Magnet buatan ada dua macam yaitu magnet tetap ( Permanent Magnet ) dan magnet sementara ( Temporary Magnet ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HIPOTESIS WEBER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerangkan berbagai hal tentang magnet,Weber menyusun hipotesisnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Semua magnet terdiri dari atom-atom magnetic yang dinamakan magnet-magnet molekuler atau magnet elementer.&lt;br /&gt;b. Pada benda yang bersifat magnet, magnet-magnet elementer diarahkan sedemikian sehingga kutub-kutub utaranya mengarah ke suatu arah yang sama dan demikian sebaliknya untuk kutub-kutub selatan.&lt;br /&gt;c. Pada benda yang tidak bersifat magnet kedudukan magnet-magnet elementer tidak teratur, tetapi sebagian besar membentuk lingkaran-lingkaran tertutup dimana kutub utara berhadapan dengan kutub selatan sehingga mengadakan keadaan yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HUKUM TOLAK MENOLAK DAN TARIK MENARIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dimana terdapat pengaruh kemagnitan disebut medan magnet. Secara sederhana medan magnet dapat diperlihatkan dengan menabur serbuk besi diatas selembar kertas yang dibawahnya ditaruh batang magnet sehingga tampak garis-garis dengan arah tertentu yang dibentuk oleh serbuk besi tersebut.&lt;br /&gt;Garis-garis ini disebut garis magnet atau garis magnitisme. Garis magnitisme disebut juga garis induksi. Setiap garis ( satu garis ) dinamakan “ Maxwell “ dan jumlah garis yang masuk dan meninggalkan kurub disebut “ Flux Magnet “ ( O ), sedengkan tingkat kerapatan garis gaya magnet tersebut ( induksi magnet )&lt;br /&gt;menunjukan kekuatan medan magnet ( B ) yang ditentukan oleh banyaknya flux magnet dalam suatu luas area tertentu ( A ) sehingga kekuatan medan magnet dapat diformulasikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;                                   &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B= O / A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Satuan untuk mengukur kekuatan medan magnet adalah Weber / m2 atau Tesla.&lt;br /&gt;Kutub-kutub magnet yang senama apabila didekatkan akan tolak menolak, sebaliknya yang tidak senama akan tarik menarik. Menurut hukum coulomb besar gaya tolak menolak dan tarik menarik dua kutub sebanding dengan kekuatan kutub-kutub itu dan berbanding terbalik dengan kuadran jarak kedua kutub tersebut;&lt;br /&gt;                             &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;K = M1.M2 / D2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;K = Gaya tolak / tarik ( dynes )&lt;br /&gt;M1 = kuat kutub pertama dalam satuan kutub utara ( SKU )&lt;br /&gt;M2 = kuat kutub kedua dalam satuan kutub utara ( SKU )&lt;br /&gt;D = jarak antara kedua kutub&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SKU adalah kuat kutub magnet yag diletakan sejauh 1 cm dalam kutub lain yang sama kuatnya dan dapat membangkitkan gaya tarik atau tolak sebesar 1 dyne ( 1 gram = 981 dyne ). Banyaknya garis gaya magnet yang dikeluarkan oleh sebuah kutub adalah :&lt;br /&gt;O = 4 M &lt;br /&gt;= 4 ( 3,14 ) M&lt;br /&gt;= 12,57 M &lt;br /&gt;M = Kuat kutub dalam SKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KEMAGNITAN LISTRIK &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara listrik dan kemagnitan dan listrik adalah bahwa magnet dapat dibuat dengan menggunakan arus listrik sebaliknya tenaga listrik dapat dibangkitkan dengan menggunakan magnet. Orang yang pertama kali melakukan penelitian tentang hubungan tersebut adalah Oersted tahun 1819.&lt;br /&gt;Medan magnet dapat timbuk pada sekitar kawat berbentuk lurus maupun melingkar. Sebuah selonoida adalah kawat penghantar listrik yang digulung menjadi sebuah kimparan panjang. Medan magnet yang sitimbulkan oleh suatu kumparan yang dialiri listrik lebih kuat daripada medan magnet yang ditimbulkan oleh sebuah lingkaran saja. Bila didalam kumparan itu ditempatkan inti besi lunak, maka kemagnetannya jauh lebih besar lagi.&lt;br /&gt;Susunan kumparan dari inti besi lunak itu disebut “ elektromagnet “ . keuntungan elektromagnet adalah :&lt;br /&gt;1. Dengan mengambil jumlah lilitan yang banyak dan arus yang kuat dapat diperoleh kemagnetan yang kuat sekali.&lt;br /&gt;2. Bila arus diputus, sifat kemagnitan dapat hilang sama sekali.&lt;br /&gt;3. Kekuatan magnetnya dapat diubah ubah dengan mengubah kuat arusnya.&lt;br /&gt;4. Cara menyimpannya tidak memerlukan apa-apa seperti halnya dengan magnet permanen.&lt;br /&gt;5. Kedua kutubnya dapat ditukar.&lt;br /&gt;Solenoida adalah suatu lilitan kawat atau kumparan yang rapat. Jika solenoida menggunakan teras udara, maka besarnya medan magnet pada pusat dan ujung solenoida adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;B pada pusat solenoida adalah : UO . i . n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui UO = K . 4 &lt;br /&gt;Jika K adalah suatu ketetapan bernilai 10-7 weber / meter ampere &lt;br /&gt;Maka UO = 4 10-7 weber / meter ampere. Jika n = N/ I maka : &lt;br /&gt;B = UO . i . N/L &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana : n = jumlah lilitan tiap satuan panjang&lt;br /&gt;I = panjang lilitan&lt;br /&gt;N = jumlah lilitan&lt;br /&gt;Sementara itu kuat medan magnet pada ujung solenoida adalah :&lt;br /&gt;B = UO . i . N/2&lt;br /&gt;Sementara itu kuat medan magnet pada ujung solenoida adalah :&lt;br /&gt;B = UO . i . N/2&lt;br /&gt;Apabila solenoida dilengkungkan maka sumbunya membentuk sebuah lingkaran yang disebut “ toroida “. Berikut gambar solenoida ( A ) dan toroida ( B ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEJARAH MRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penemuan MRI tidak muncul secara tiba-tiba akan tetapi melalui perkembangan ilmu yang mendukung terwujudnya teknologi MRI. Terdapat serentetan nama yang memiliki andil yang cukup besar dalam mewujudkannya.&lt;br /&gt;Mendeleyev dan Mayer tahun 1869 menyusun unsur-unsur atom dengan sistem periodiknya. Eniest Rutherford, Neils Bohr dan James Chud pada tahun 1911 berjasa dalam teori tentang struktur atom. Kemudian Felix Block dan Edward Purcell keduanya menerima hadiah nobel di bidang fisika pada tahun 1952 mengungkapkan perilaku inti atom seperti sebuah magnet kecil, yang dapat melakukan spin dan precessing dengan berlandaskan pada rumus larmor ( akan dibahas ) yang merupaka&lt;br /&gt;dasar utam terciptanya MRI. Tahun 1960 seorang ahli fisika yang dapat dianggap palinh berjasa dalam pengembangan MRI adalah Raymond Damadian telah melakukan rentetan penelitian dan mampu membedakan jaringan- jaringan tumor ganas dan jaringan normal. Disusul kemudian tahun 1974 ia mendemonstrasikan tumor tikus secara kasar dengan citra MRI dan tahun 1976 menghasilkan citra tubuh manusia dengan memerlukan waktu pemeriksaan 4 jam. Tahun 1977 bersama Paul Luterbur menyempurnakan dan resmi menjadi salah satu instrumen pencitraan medik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PRINSIP DASAR MRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air ( H2O ) yang mengandung 2 atom hydrogen yang memiliki no atom ganjil ( 1) yang pada intinya terdapat satu proton. Inti hydrogen merupakan kandungan inti terbanyak dalam jaringan tubuh manusia yaitu 1019 inti/ mm3 , memiliki konsentrasi tertinggi dalam jaringan 100 mmol/ Kg dan memiliki gaya magnetic terkuat dari elemen lain.&lt;br /&gt;Dalam aspek klinisnya, perbedaan jaringan normal dan bukan normal didasarkan pada deteksi dari kerelatifan kandungan air ( proton hydrogen ) dari jaringan tersebut. Proton proton memiliki prilaku yang hampir sama dengan prilaku sebuah magnet. Sebab proton merupakan suatu partikel yang bermuatan positif dan aktif melakukan gerakan mengintari sumbunya ( spin ) secara kontinyu. Secara teori jika suatu muatan listrik melakukan pergerakan maka disekitarnya akan timbul gaya magnet dengan demikian proton proton dapat diibaratkan seperti magnet magnet yang kecil ( Bar Magnetic ). Secara ringkas prosedur pembentukan gambar pada pemeriksaan MRI adalah pasien diletakan dalam medan magnet yang kuat selanjutnya dipancarkan sebuah gelombang radio, ketika gelombang radio dimayikan ( turn off ) pasien memancarkan signal yang berasal dari proton proton tubuh pasien dan signal tersebut akan diterima oleh antenna dan dikirim ke sisitem komputer untuk direkonstruksi menjadi gambar. Proses terjadinya signal MRI yang berasal dari pasien tersebut melalui 3 fase fisika yaitu : Fase Presesi ( Magnetisasi ), Fase Resonansi dan Fase Relaksasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FASE PRESESI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telah diketahui inti sebuah atom terdiri dari neutron yang tidak bermuatan ( netral ) dan proton yang bermuatan positif. Proton proton yang bersifat magnetic memiliki medan magnet yang mengarah pada 2 kutub ( utara dan selatan ) mirip&lt;br /&gt;dengan sebuah magnet kecil ( sebagaimana yang telah dijelaskan ) sehingga proton proton dengan kutubnya tersebut lazim disebut “ Magnetic Dipole “. Pada atom dengan nomor atom genap, inti atom ( partikel elementer ) akan berpasang pasangan sehingga saling meniadakan efek magnetik masing masing dengan demikian tidak terdapat inti bebas yang akan membentuk jaringan magnetisasi sehingga sulit untuk&lt;br /&gt;dirangsang agar terjadi pelepasan signal. Sebaliknya atom atom dengan nomor atom ganjil memiliki inti atom bebas yang akan menghasilkan jaringan magnetisasi, sehingga materi lain selain hydrogen ( dengan 1 proton pada intinya ) juga memungkinkan pengembangan pemeriksaan MRI pada jaringan yang mengandung natrium ( NA 23- Proton 11 dan neutron 12 ), phospor ( NA 31 – 15 proton dan 16 neutron ) dan Potassium ( NA 39-19 proton dan 20 neutron ).&lt;br /&gt;Dalam keadaan normal proton proton hydrogen dalam tubuh tersusun secara acak sehingga tidak dihasilkan jaringan magnetisasi. Ketika pasien dimasukan kedalam medan magnet yang kuat dalam pesawat MRI, magnetik dipole ( proton proton ) tubuh pasien akan searah ( parallel ) dan tidak searah ( antiparallel ) dengan kutub medan magnet pesawat. Selisih proton proton yang searah dan berlawanan arah amat sedikit dan tergantung kekuatan medan magnet pesawat dan selisih inilah yang akan merupakan inti bebas ( tidak berpasangan ) yang akan membentuk jaringan magnetisasi. Berikut skema perbedaan kekuatan medan magnet terhadap terjadinya proton proton bebas pada setiap 2 juta dipole ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.5 Tesla = Dipole paralel dan anti paralel masing-masing 1 juta dan &lt;br /&gt;dipole bebas 3&lt;br /&gt;1 Tesla = Dipole paralel dan anti paralel masing-masing 1 juta dan &lt;br /&gt;dipole bebas 6&lt;br /&gt;1.5 Tesla = Dipole paralel dan anti paralel masing-masing 1 juta dan &lt;br /&gt;dipole bebas 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh dapat dikemukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Misal pada pesawat MRI dengan kekuatan medan magnet 1,5 tesla dan ukuran&lt;br /&gt;Voxel adalah 2 x 2 x 5 mm = 20 mm3 berarti volume isi adalah 0,02&lt;br /&gt;ml. Jika yang diperiksa adalah unsur air ( H2O ) maka :&lt;br /&gt;Massa relatif ( Mr ) molekul H2O adalah 18 ( O16 dan 2H1 ), dengan jumlah&lt;br /&gt;mol atom hydrogen dalam air adalah 2 mol. ( sebab dalam 1 molekul air&lt;br /&gt;terdapat 2 mol hydrogen ) sehingga kandungan partikel proton hydrogen dalam 1&lt;br /&gt;molekul air adalah 2 x 6,02 x 1023. 6,02 x 1023 adalah bilangan avugardo.&lt;br /&gt;Yaitu = ketetapan yang menyatakan terdapat 6,02 x 1023 partikel dalam 1 mol /&lt;br /&gt;unsure. Berarti dalam 1 molekul air terdapat partikel proton hydrogen&lt;br /&gt;sebanyak 2 x 6,02 x 1023 partikel proton. Dalam 1 voxel air terdapat 1,388 x&lt;br /&gt;1021 total proton hydrogen. &lt;br /&gt;Jika kekuatan medan magnet pesawat MRI adalah 1,5 Tesla maka akan diperoleh&lt;br /&gt;jumlah proton bebas yang membentuk jaringan dalam 1 voxel air yaitu : 1,388 x&lt;br /&gt;1021 x 9 / 2 x 106 = 6.02 x 1015 proton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipole yang membentuk jaringan magnetisasi tersebut cenderung dengan arah kurub medan magnet pesawat MRI ( B0 ) – dikenal juga dengan arah longitudinal (Z axis ). Jaringan magnetisasi itu sulit diukur karena arah induksi magnetnya sama dengan arah induksi magnet pesawat, sehingga dibutuhkan perubahan arah induksi magnet dari dipole dipole tersebut dengan menggunakan gelombang radio.&lt;br /&gt;Dipole – dipole selain terus melakukan spin juga melakukan gerakan relatif. Gerakan relatif tersubut serupa dengan gerakan permukan gasing ( spinning to toy ) yang disebut gerakan presesi ( lihat gambar )&lt;br /&gt;Frekuensi gerakan presesi tergantung pada jenis atom dan kekuatan medan magnet luar yang mempengaruhinya ( kekuatan medam magnet pesawat MRI ). Frekuensi presesi dapat dihitung berdasarkan rumus larmor berikut ini :&lt;br /&gt;WO = Y . BO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana : WO ( Omega Zerio ) = frekuensi presesi atau resonansi manetio&lt;br /&gt;( 2,13 MHZ – 85 MHZ )&lt;br /&gt;Y ( gamma ) = konstanta giromagnetik proton&lt;br /&gt;( hydrogen 42,8 MHZ/Tesla )&lt;br /&gt;BO = kekuatan medan magnet ( Tesla )&lt;br /&gt;Dipole yang membentuk jaringan magnetisasi tersebut cenderung dengan arah kurub medan magnet pesawat MRI ( B0 ) – dikenal juga dengan arah longitudinal (Z axis ). Jaringan magnetisasi itu sulit diukur karena arah induksi magnetnya sama dengan arah induksi magnet pesawat, sehingga dibutuhkan perubahan arah induksi magnet dari dipole dipole tersebut dengan menggunakan gelombang radio.&lt;br /&gt;Dipole – dipole selain terus melakukan spin juga melakukan gerakan relatif. Gerakan relatif tersubut serupa dengan gerakan permukan gasing ( spinning to toy ) yang disebut gerakan presesi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FASE RESONANSI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui secara tepat frekuensi presesi proton proton sangat mutlak untuk menentukan besarnya frekuensi presesi gelombang radio ( RF ) yang akan dipancarkan untuk mengubah arah orientasi dipole yang membentuk jaringan magnetisasi.&lt;br /&gt;Ketika proton proton hydrogen mengalami 1 presesi, maka proton proton akan mudah menyerap energi luar. Pada saat fase presesi itulah gelombang radio (RF) dipancarkan dan proton proton hydrogen akan menyerapnya dan mulai bergerak meninggalkan arah longitudinal ( L direction ) yang sejajar dengan arah kutub magnet pesawat menuju kearah transversal ( Tegak lurus terhadap sumbu medan magnet pesawat) dan menghasilkan magnetisasi transversal. Proton proton yang dapat dipengaruhi oleh gelombang radio hanyalah proton proton yang memiliki frekuensi presesi yang sama dengan frekuensi gelombang radio.&lt;br /&gt;Fase proton proton bergerak meninggalkan sumbu longitudinal menuju arah transversal disebut sebagai fase resonansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FASE RELAKSASI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika proton proton hydrogen berada pada bidang transversal, akan menginduksikan signal dalam bentuk gelombang elektromagnetik ( dikenal dengan MRI ) yang akan diterima oleh sebuah kumparan ( antenna ) penerima disisi pesawat MRI. Saat pancaran frekuensi radio dihentikan ( turn off ) proton proton secara perlahan lahan kehilangan energinya dan mulai bergerak meninggalkan arah transversal ( decay ) menuju kembali kearah longitudinal ( recovery ) sambil melepaskan energi yang diserapnya dari gelombang radio dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang dikenal sebagai SIGNAL MRI, fase ini disebut fase relaksasi.&lt;br /&gt;Fase relaksasi dibagi menjadi T1 dan T2. T1 didefenisikan sebagai waktu yang diperlukan proton proton hydrogen sekitar 63% telah berada kembali dalam arah longitudinal ( magnetisasi longitudinal ). T1 mencerminkan tingkat trnsfer energi frekuensi radio ( RF ) dari proton proton keseluruh jaringan sekitar ( Tissue-Lattice ) sehingga T1 biasa pula dikenal; istilah “ Spin Lattice-Relaxation”, dimana besar T1 tergantung pada konsentrasi dan kepadatan proton serta struktur kimiawi dari materi jaringan yang diperiksa ( Macromolecul enveiroment ). Jika T1 makin lama maka diperoleh signal yang makin besar.&lt;br /&gt;Ketika pemberian gelombang radio 900 ( memutar proton proton ke arah transversal ) diperoleh signal dari arah transversal maksimum. Namun ketika RF 900 dihentikan magnetisasi transversal yang memancarkan signal awal maksimum berangsur angsur mulai berkurang ( Decay ). Awalnya presesi proton proton berada dalam laju dan arah yang sama ( fase yang sama ) namun secara perlahan satu sama lain keluar dari fase yang satu tersebut ( Dephasing ) disebabkan terjadinya interaksi masing proton dengan proton proton disekitarnya ( spin-spin interaction ). Interaksi spin spin merupakan suatu mekanisme tambahan yang dikonstribusikan oleh kenyataan bahwa medan magnetic eksternal dari pesawat MRI tidak betul betul&lt;br /&gt;seragam ( homogen ) sehingga menghasilkan magnetisasi proton proton lokal yang tidak homogen ( local inhomogeneity ). Local inhomogeneity meningkatkan interksi spin spin dan mempercepat dephasing sehingga mempercepat penurunan besarnya signal ( signal decay ) ke nilai nol. Hal ini berarti terdapat adanya signal yang hilang ( loss of signal ). Waktu yang diperlukan proton proton dari keadaan magnetisasi transversal berkurang hingga sekitar 37 % saja merupakan nilai T2 yang sebenarnya. Kehilangan signal yang diakibatkan oleh medan magnetic lokal yang tidak homogen tersebut, menutupi nolai T2 yang sebenarnya. Nilai T2 yang diakibatkan oleh adanya medan magnetic yang tidak homogen diberi symbol T2*.&lt;br /&gt;Nilai T1, T2 dan efek T2* terhadap nilai T2 yang sebenarnya dapat diperlihatkan pada kurva berikut :&lt;br /&gt;Pada gambar ( A ) nilai T1 lebih cepat pada jaringan padat ( solid) dibandingkan cairan ( liquid ). Gambar ( B ) menunjukan defenisi T2 dan gambar ( C ) menunjukan efek T2* terhadap nilai T2 yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Medan magnetic lokal yang tidak homogen mengakibatkan terjadinya gerakan presesi proton proton yang tidak seragam ( acak ) sehingga menyebabkan terjadinya saling interaksi diantara mereka dengan demikian tidak ada signal yang terdeteksi sehingga seolah olah ada kehilangan signal ( loss of signal ). Hadirnya T2* mempersepat signal menuju ke nol, oleh karena itu prosedur pemeriksaan MRI salah satunya adalah mengurangi atau menghilangkan efek T2*, sehingga diperileh nilai T2 yang sebenarnya. Jika nilai T2 besar maka signal yang dihasilkan juga besar. Jadi proses deohasing diakibatkan oleh hasil interaksi spin spin yang sebenarnya dan interaksi spin spin akibat medan magnet yang tidak homogen ( T2* ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ringkasan Prinsip Dasar Pemeriksaan MRI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas dapat disimpulakan kejadian dan langkah – langkah pemeriksaan MRI sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Penderita sebelum dimasukan kedalam medan magnet pesawat MRI, proton proton dalam tubuh tersusun secara acak, sehingga tidak ada jaringan magnetisasi.&lt;br /&gt;2. Penderita ditempatkan dalam medan magnet, terjadi magnetisasi proton posisi parallel dan anti parallel serta melakukan gerakan presesi.&lt;br /&gt;3. Pemberian gelombang radio ( RF ) proton menyerap energi dari gelombang radio tersebut dan melakukan magnetisasi ke arah transversal ( Fase Resonansi ).&lt;br /&gt;4. Penghentian gelombang radio menyebabkan relaksasi ( kembali ke posisi awal ) dimana proton proton melepaskan energi berupa signal- signal elektromagnetik ( Signal MRI ).&lt;br /&gt;5. Signal- signal diterima oleh sebuah koil antenna penerima.&lt;br /&gt;6. Selanjutnya signal- signal tersebut diubah menjadi pulsa listrik dan dikirim ke sistem komputer untuk diubah menjadi gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh nilai T1 dan T2 yang tidak dipengaruhi oleh T2* dibutuhkan rangkaian pulsa khusus ( special pulse sequence ) yaitu : Saturation Recovery, Inversion Recovery, dan Spin Echo Sequence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SIGNIFIKASI SIGNAL MRI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan signal MRI yaitu :&lt;br /&gt;1. Medan Magnet Utama&lt;br /&gt;Seperti yang telah dijelaskan bahwa kekuatan medan magnet luar ( magnet pesawat MRI ) mempengaruhi jumlah proton-proton bebas yang membentuk jaringan magnetisasi ( Proton-proton parallel yang tidak memiliki pasangan anti parallel ). Semakin besar kekuatan medan magnet utama maka semakin besar pula jumlah proton-proton bebas yang membentuk jaringan magnetisasi sehingga secara keseluruhan akan memberikan akumulasi signal yang semakin besar pula.&lt;br /&gt;2. Proton Density ( Chemical Shift dan Dimensi Jaringan )&lt;br /&gt;Jika materi yang diperiksa memiliki kandungan proton yang besar maka akan semakin banyak pula proton-proton bebas yang akan membentuk jaringan magnetisasi dihasilkan jika dibandingkan dengan materi yang memiliki kandungan proton-proton lebih kecil pada kuat medan magnet yang sama. Pada dasarnya kandungan proton ini dalam pemeriksaan MRI tergantung pada kandungan ( kadar ) air yang merupakan salah satu material dari komposisi kimia penyusun jaringan yang diperiksa.&lt;br /&gt;3. Waktu Relaksasi ( T1 dan T2 )&lt;br /&gt;Waktu relaksasi terdiri atas T1 dan T2. jika T1 lama maka diperoleh jumlah signal yang semakin besar pula sebaliknya jika T2 lama diperoleh signal yang semakin kecil.&lt;br /&gt;Berikut ini tabel hubungan T1 dan T2 terhadap bermacam-macam jaringan tubuh pada medan magnet 1 Tesla :&lt;br /&gt;          T I S S U E        T1 ( mill second )         T2 (mill second )&lt;br /&gt;          Fat                      180                             90&lt;br /&gt;         Liver                      270                            50&lt;br /&gt;         Renal Cortex               360                            70&lt;br /&gt;         White Matter               390                              90&lt;br /&gt;         Splien                     480                              80&lt;br /&gt;          Gray Matter              390                               100&lt;br /&gt;          Muscle                   600                                 40&lt;br /&gt;         Renal Medulla             680                               140&lt;br /&gt;           Blood                    800                             180&lt;br /&gt;       Cerebro Spinal Fluid        2000                              3000&lt;br /&gt;          Water                   2500                              2500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gerakan Fisiologi ( Flow Phenomena )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-3610109037401816267?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/3610109037401816267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=3610109037401816267' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/3610109037401816267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/3610109037401816267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/dasar-dasar-teknik-pencitraan-mri_12.html' title='DASAR-DASAR TEKNIK PENCITRAAN MRI ( MAGNETIC RESONANCE IMAGING )'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-121396853169703895</id><published>2008-08-12T02:05:00.003-07:00</published><updated>2008-08-12T02:09:35.065-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MRI DAN USG AMAN'/><title type='text'>MRI DAN USG AMAN..?</title><content type='html'>MRI DAN USG AMAN..?&lt;br /&gt;SEBUAH KENYATAAN ATAU ANGGAPAN&lt;br /&gt;Oleh : Sumarsono&lt;br /&gt;Dibawakan pada Seminar Persatuan Ahli Radiografi Indonesia (PARI) Sulawesi-Selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Magnetic resonance imaging (MRI) and ultrasonografi (USG) adalah peralatan pencitraan non-invasif yang telah digunakan secara luas pada pencitraan radiologi diagnostik. Umumnya MRI dan USG dianggap sebagai pemeriksaan yang aman karena tidak menggunakan radiasi ionisasi.&lt;br /&gt;Namun banyak penelitian yang mengindikasikan kemungkinan adanya resiko pada pemeriksaan Ultrasound dan MRI. Dengan demikian, penting untuk mengetahui mengapa kemungkinan tersebut dapat terjadi sehingga penggunaannya dapat dilakukan secara bijak dan berdasarkan indikasi medis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;MRI adalah pencitraan radiology mutakhir yang memanfaatkan interaksi proton-proton tubuh dengan gelombang radiofrekuensi (RF) dalam medan magnet kuat. Sedangkan USG atau Ultrasonografi adalah pencitraan yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi ( 2- 13 Mhz) untuk memperlihatkan gambaran organ-organ tubuh yang disebut Sonogram.1&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan jenis pencitraan yang menggunakan radiasi ionisasi (Sinar-X atau radiasi pancaran dari bahan radioaktif), jelas kedua jenis pemeriksaan ini lebih aman, sehingga terkesan secara populer bahwa kedua jenis pemeriksaan ini aman sehingga tak ada keraguan dilakukan pemeriksaan berulang-ulang dalam waktu kapan saja, bahkan sebagian pemeriksaan misalnya melakukan pemeriksaan USG untuk mengambil print photo bayi dalam kandungan sebagai arsip keluarga dari bulan-bulan kehamilan telah menjadi sebagai suatu gaya hidup.The American Institute of Ultrasound in Medicine (AIUM) merilis pernyataan berikut ini:&lt;br /&gt;The AIUM sangat menetang penggunaan non medis dari ultrasound untuk tujuan psychososial atau tujuan-tujuan hiburan (entertainment purposes). Penggunaan baik 2 dimensi (2D) atau (3D) ultrasound hanya untuk melihat fetus, memperoleh gambar fetus, atau menentukan jenis kelamin (fetal gender) tanpa indikasi medis adalah tidak tepat serta tidak sesuai dengan praktek medis yang bertanggung jawab2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kajian independen kedua jenis pemeriksaan tersebut tanpa dipengaruhi oleh perbandingan dengan pencitraan yang menggunakan radiasi ionisasi, apakah kedua jenis pemeriksaan ini betul-betul aman adalah merupakan topik yang menarik untuk dikaji .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi radiasi&lt;br /&gt;Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Secara garis besar radiasi digolongkan ke dalam radiasi pengion dan radiasi non-pengion.&lt;br /&gt;Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila berinteraksi dengan materi. Yang termasuk dalam jenis radiasi pengion adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma, sinar-X dan neutron. Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus. &lt;br /&gt;Radiasi non-pengion adalah jenis radiasi yang tidak akan menyebabkan efek ionisasi apabila berinteraksi dengan materi. Yang termasuk dalam jenis radiasi non-pengion antara lain adalah gelombang radio (yang membawa informasi dan hiburan melalui radio dan televisi); gelombang mikro (yang digunakan dalam microwave oven dan transmisi seluler handphone); sinar inframerah (yang memberikan energi dalam bentuk panas); cahaya tampak (yang bisa kita lihat); sinar ultraviolet (yang dipancarkan matahari). Gelombang radiofrekuensi yang digunakan pada MRI adalah Radiasi non-pengion3. &lt;br /&gt;Interaksi Radiasi dan Gelombang Ultrasound Dengan Medium Biologi&lt;br /&gt;Tubuh terdiri dari berbagai macam organ seperti hati, ginjal, paru dan lainnya. Setiap organ tubuh tersusun atas jaringan yang merupakan kumpulan sel yang mempunyai fungsi dan struktur yang sama. Sel sebagai unit fungsional terkecil dari tubuh dapat menjalankan fungsi hidup secara lengkap dan sempurna seperti pembelahan, pernafasan, pertumbuhan dan lainnya. Sel terdiri dari dua komponen utama, yaitu sitoplasma dan inti sel (nucleus). Sitoplasma mengandung sejumlah organel sel yang berfungsi mengatur berbagai fungsi metabolisme penting sel. Inti sel mengandung struktur biologic yang sangat kompleks yang disebut kromosom yang mempunyai peranan penting sebagai tempat penyimpanan semua informasi genetika yang berhubungan dengan keturunan atau karakteristik dasar manusia. Kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang mengandung ribuan gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA (Deooxyribonucleic acid) yang membawa suatu kode informasi tertentu dan spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Interaksi radiasi maupun gelombang ultrasound dengan tubuh (medium bilogi) dapat berupa :&lt;br /&gt;1. Terjadi Pemantulan misalnya pada USG&lt;br /&gt;2. Penyerapan &lt;br /&gt;- Transfer energi&lt;br /&gt;- Ionisasi&lt;br /&gt;- Eksitasi&lt;br /&gt;- Efek Fotolistrik, Compton, Produksi &lt;br /&gt;Pasangan.&lt;br /&gt;Gelombang radiofrekuensi hanya akan memberikan transfer energi dan pada energi tertentu dapat mengeksitasi sedangkan Gelombang ultrasound akan diserap, dan dipantulkan. Dengan besarnya penyerapan tergantung pada koefisien serapan dari materi. Berikut jenis organ dan koefisien serapannya : &lt;br /&gt;Gelombang radiofrekuensi hanya akan memberikan transfer energi dan pada energi tertentu dapat mengeksitasi sedangkan Gelombang ultrasound akan diserap, dan dipantulkan. Dengan besarnya penyerapan tergantung pada koefisien serapan dari materi. Berikut jenis organ dan koefisien serapannya : &lt;br /&gt;Organ Koefisien serapan (cm-1)&lt;br /&gt;Otot 0,13&lt;br /&gt;Lemak 0,05&lt;br /&gt;Otak 0,11&lt;br /&gt;Tulang 0,4&lt;br /&gt;Air 2,5 x 10-4 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa efek dari gelombang radiofrekuensi dan ultrasound dapat dibagi dalam tiga kelompok utama yaitu1 : &lt;br /&gt;• Mekanik berupa Vibrasi jaringan yang dapat membentuk emulsi &lt;br /&gt;• Panas :&lt;br /&gt;Sebagai contoh dari efek penyerapan (transfer energi) adalah Untuk dosis 1 Gy = 1 J/kg bahan = 0,24 kal. Dengan menggunakan persamaan :Q = m c Δ t dengan c tubuh = 0,83 kal/grmºC, akan di dapat Δ t = (0,24)/(1000 x 0,83) ºC = 0,28 mili ºC sehingga perubahan suhu terlalu kecil untuk dideteksi.&lt;br /&gt;• Kimia : &lt;br /&gt;• Depolymerisation – secara eksperimental ultrasound dapat merusak polisakarida dan polipetida yang mencakupi DNA. Efek ini belum dilaporkan pada prosedur USG rutin. &lt;br /&gt;• Oksidasi &lt;br /&gt;• Reduksi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Gelombang ultrasound&lt;br /&gt;Meskipun ultrasound sendiri tidak menghasilkan audible noise, vibrasi sekunder dapat menghasilkan noise sebesar 100 decibels, meyebabkan fetus untuk bergerak. Efek lain yang sepenuhya belum dipahami betul meliputi pembentukan gelembung-gelembung kecil dalam jaringan (suatu proses yang dikenal dengan sebutan cavitation), menginduksi aliran dalam cairan tubuh serta menghasilkan creation sejumlah zat-zat beracun (toxic chemicals)4.&lt;br /&gt;Menurut suatu penelitian tahun 1998 suhu meningkat sekitar 4.5 degrees Centigrade (8.1 derajat Fahrenheit) yang diukur pada otak fetus yang diperiksa selam 2 menit dengan USG Doppler5. Penelitian lain menunjukkan efek merugikan pada divisi sel dalam sumsum tulang yang sedang dipapar ultrasound. 6&lt;br /&gt;Pada Oktober 2004, Pasko Rakic, Kepala Bagian Neurobiology pada Yale University, mengumumkan bahwa dia dan koleganya telah menemukan kelainan dari migrasi normal sel-sel dalam otak fetus selama dipapar dengan ultrasound. Rakic sedang melakukan penelitian yang berbiaya $3 miliar untuk melihat efek yang sama yang terjadi pada kera selama kehamilan. Pada manusia, gangguan semacam itu biasanya dijumpai akibat virus, mutasi gen dan pemakian obat-obat tertentu yang diperkirakan menyebakan autisme maupun ketidak mampuan belajar7. Pada penelitian-penelitian lain terhadap yang telah terpapar ultrasound dicurigai terjadinya gangguan pertumbuhan, dyslexia, dan keterlambatan berbicara8. &lt;br /&gt;Efek dari Interaksi gelombang suara dengan tubuh sangat kompleks dan dipengaruhi oleh banyak factor salah satunya adalah perbedaan respon sel (tulang berbeda dengan otot). Tulang sangat sensitive terhadap panas akibat ultrasound: kepala fetus pada trimester ketiga memanas hingga 50 kali lebih cepat dibandingkan jaringan otak yang berarti jaringan otak yang terbungkus tulang tengkorak, seperti pada kelenjar pituitary dan hypothalamus, rentang terhadap resiko sekunder kenaikan suhu9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Interaksi Gelombang radiofrekuensi&lt;br /&gt;Termal efek&lt;br /&gt;Terjadi kenaikan suhu (panas) pada jaringan. Sirkulasi darah otak mampu membuang kelebihan panas dengan meningkatkan aliran darah local. Namun kornea mata tidak memiliki mekanisme regulasi temperature demikian sehingga dapat menyebabkan katarak premature yang biasanya banyak ditemukan pada teknisi yang bekerja pada high power radio transmitters. Telah di klaim bahwa kerusakan beberapa bagian mudah terjadi dengan kenaikan suhu terutama struktur anatomi dengan system vaskularisasi yang sedikit seperti serat saraf. Walau kemungkinan terjadi pada penggunaan radiofrekuensi pada pesawat MRI masih memerlukan penelitian mendalam1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non-thermal effects&lt;br /&gt;Catatan biophysicist Jerman Roland Glaser, telah membuktikan bahwa ada beberapa molekul thermoreceptor dalam sel, dan bahwa mereka mengaktifkan pemancaran messenger systems kedua dan ketiga, Mekanisme ekspresi gen dan produksi heat shock proteins untuk mempertahankan sel melawan metabolic cell stress yang disebabkan oleh panas. Peningkatan suhu yang menyebabkan perubahan ini sangat kecil .&lt;br /&gt;Peneliti Swedia dari Universitas Lund, Salford, Brun, Perrson, Eberhardt and Malmgren, telah mempelajari efek-efek radiasi mikrowave pada otak tikus. Mereka menemukan kebocoran albumin ke dalam otak melalui suatu perembesan blood-brain barrier1. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Interaksi Medan Magnet .&lt;br /&gt;Kemungkinan Efek merugikan dari paparan medan magnet pada pekerja magnetic resonance imaging (MRI), mengacu pada international guidelines on limiting occupational exposure to electromagnetic fields (EMFs), Health Protection Agensy (HPA), the World Health Organization (WHO) serta the International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection (ICNIRP) .&lt;br /&gt;Berikut tiga kelas interaksi fisika medan magnet statis dengan system biologi yang telah di dukung oleh data eksperimental :&lt;br /&gt;(1) Interaksi Elektrodinamika dengan arus konduksi. Arus ion berinteraksi dengan medan magnet static sebagai suatu hasil gaya Lorentz yang mendesak pergerakan pembawa muatan. Efek ini menimbulkan arus dan potensial listrik. Aliran potensial (arus konduksi) biasanya dihubungkan dengan kontraksi ventikel dan pemompaan darah ke dalam aorta.Interaksi Lorentz juga dihasilkan pada gaya magnetohydrodynamic force yang melawan aliran darah. Penurunan aliran darah aorta diestimasi hingga 10% pada 15 T.&lt;br /&gt;(2) Efek Magnetomekanik.&lt;br /&gt;(3) Efek pada electronic spin states dari reaksi intermedial. Beberapa kelasrekasi kimia organik dapat dipengaruhi oleh medan magnet static pada range 10 hingga 100mT sebagai suatu hasi dari efek pada electronic spin states dari reaksi intermedial. Suatu spin- berkorelasi dengan pasangan radikal yang mungkin merupakan rekombinasi dan mencegah pembentukan suatu produk reaksi. Kebanyakan penelitian menggunakan efek medan magnet pasangan radikal.&lt;br /&gt;Sejumlah efek bilogis yang berbeda dari medan magnet statis telah dilakukan in vitro. Endpoints studi mencakup orientasi sel, aktifitas metabolisme sefisiologi membrane sel,ekspresi gen, pertumbuhan sel dan genotoksisitas.Terdapat evidensi bahwa medan magnet statis dapat mempengaruhi beberapa endpoints pada intensitas lebih rendah dari 1 T, dalam mT range.&lt;br /&gt;Dalam studi epidemologi pada pekerja (operator MRI) dicurigai potensi munculnya kanker, perubahan haematologi, aberasi kromosom, reproductif outcomes, dan kelainan musculoskeletal. Percobaan pada binatang dalam laboratorium ditemukan gejala gangguan pada system saraf, jantung dan aliran darah serta system endokrin10,11.&lt;br /&gt;Kesimpulan.&lt;br /&gt;Dari data teoritis dan eksperimental menunjukkan kemungkinan terjadinya efek merugikan pada penggunaan ultrasound pada USG, frekuensi radio dan medan magnet pada MRI, sehingga sebaiknya pemeriksaan tersebut dilakukan mutlak berdasarkan kebutuhan medis, dengan tetap mengupayakan pengurangan waktu dan dosis paparan. Pengurangan dosis paparan dapat ditunjang ditunjang oleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai dari operator.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. http://www.provet.co.uk/health/diagnostics/ultrasoundeffects.htm&lt;br /&gt;2. http://www.greenfacts.org/en/static-fields/l-3/4-interactions-body.htm&lt;br /&gt;3. Harmful effects of ultrasonic radiation on the human body FROM&lt;br /&gt;    www.diversitas.org/db/x.php?dbcode=pr&amp;go=e&amp;id=1480&lt;br /&gt;4. Jagannathan, N.R. Magnetic resonance imaging (MRI): effects of electro-magnetic &lt;br /&gt;   radiation and safety aspects from http://ieeexplore.ieee.org/Xplore&lt;br /&gt;5. Jim Giles, “Ultrasound scans accused of disrupting brain development,”&lt;br /&gt;    news@nature.com, 10/27/2004 at www.nature.com.&lt;br /&gt;6. K.A. Salvesen, L.J. Vatten, S.H. Eik-Nes, K. Hugdahl, L.S. Bakketeig, “Routine&lt;br /&gt;    ultrasonography in utero and subsequent handedness and neurological development,”&lt;br /&gt;    British Medical Journal, Vol. 307, 1993, 159-64. H. Kieler, O. Axelsson, B.&lt;br /&gt;     Haglund, S. Nilsson, K.A. Salvesen, “Routine ultrasound screening in pregnancy&lt;br /&gt;     and children’s subsequent handedness.” Early Human Development, Vol. 50, 1998, &lt;br /&gt;     233-45.&lt;br /&gt;7. M.M. Horder, S.B. Barnett, G.J. Vella, M.J. Edwards, A.K.W. Wood, “Ultrasound-&lt;br /&gt;   induced temperature increase in the guinea pig fetal brain in utero: third-&lt;br /&gt;   trimester gestation.” Ultrasound in Medicine and Biology, Vol. 24, No. 5, June &lt;br /&gt;   1998, 1501-10; M.M. Horder, S.B. Barnett, G.J. Vella, M.J. Edwards, A.K.W. Wood, &lt;br /&gt;   “In vivo heating of the guinea pig fetal brain by pulsed ultrasound and estimates&lt;br /&gt;  of Thermal Index,” Ultrasound in Medicine and Biology, Vol. 24, No. 5, June 1998, &lt;br /&gt;  1467-74.&lt;br /&gt;8. MRI – EC Physical Agents Directive from www.hpa.org.uk/radiation/&lt;br /&gt;9. S.B. Barnett, M.J. Edwards, P. Martin, “Pulsed ultrasound induces temperature &lt;br /&gt;   elevation and nuclear abnormalities in bone marrow cells of guinea pig femurs.”  &lt;br /&gt;   Proceedings of the 6th World Congress on Ultrasound Medicine, No. 3405&lt;br /&gt;   ( Copenhagen, Denmark: WFUMB, 1991).&lt;br /&gt;10. S.B. Barnett, “Can diagnostic ultrasound heat tissue and cause biological &lt;br /&gt;    effects?” In S.B. Barnett and G. Kossoff, eds., Safety of Diagnostic Ultrasound &lt;br /&gt;    (Carnforth, UK: Parthenon Publishing, 1998), 30–31.&lt;br /&gt;11. S.B. Barnett, “Sensitivity to diagnostic ultrasound in obstetrics,” In S.B.&lt;br /&gt;    Barnett andG. Kossoff, eds., Safety of Diagnostic Ultrasound. (Carnforth, UK: &lt;br /&gt;     Parthenon Publishing, 1998), 58.&lt;br /&gt;12. Ted Nace Conflicts of Interest: Understanding the Safety Issues Around Prenatal&lt;br /&gt;    3D Ultrasound http://www.askquestions.org/articles/ultrasound/&lt;br /&gt;14. http://www.fda.gov/FDAC/features/2004/104_images.htmlFDA Cautions Against    &lt;br /&gt;    Ultrasound 'Keepsake' Images&lt;br /&gt;15. Website Info Nuklir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-121396853169703895?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/121396853169703895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=121396853169703895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/121396853169703895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/121396853169703895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/mri-dan-usg-aman_12.html' title='MRI DAN USG AMAN..?'/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3531669985072493741.post-6939610644992773028</id><published>2008-08-12T01:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T02:02:44.274-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>SPEKTROSKOPI SINAR-X KARAKTERISTIK&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Pada 1900, fisikawan berkebangsaan Jerman Max Planck (1858-1947) melakukan studi untuk mempelajari radiasi benda hitam. Planck berhasil menemukan suatu persamaan matematika untuk radiasi benda hitam yang benar-benar sesuai dengan data percobaan yang diperolehnya. Persamaan tersebut selanjutnya disebut Hukum Radiasi Benda Hitam Planck, yang menyatakan bahwa intensitas cahaya yang dipancarkan dari suatu benda hitam berbeda-beda sesuai dengan panjang gelombang cahaya. Teori Planck ini dikenal juga sebagai "teori kuantum". Teori kuantum dari Planck diakui kebenarannya karena dapat dipakai untuk menjelaskan berbagai fenomena fisika yang saat itu tidak bisa diterangkan dengan teori klasik. Menjelang 1918, Planck memperoleh hadiah Nobel bidang fisika berkat teori kuantumnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niels Bohr, ahli fisika berkebangsaan Swedia, pada 1913 menerapkan teori kuantum dalam studi spektrum atom yang dilakukannya. Bohr mengemukakan teori baru mengenai struktur dan sifat-sifat atom yang merupakan gabungan dari penemuan Ernest Rutherford mengenai struktur atom dan teori kuantum dari Max Planck. Bohr dengan cara yang mengagumkan dalam teori atomnya berusaha untuk memperhitungkan adanya garis yang berbeda-beda dalam spektrum atom.Teori atom Bohr memudahkan perhitungan tentang adanya garis dalam spektrum suatu unsur. Apabila suatu unsur dipanasi, elektron bagian dalam orbit atom akan menyerap energi dari luar. Apabila suatu unsur didinginkan, elektron akan kehilangan energi dan kembali lagi ke orbit semula. Jika peristiwa ini terjadi, satu atau lebih kuantum energi akan dilepaskan dalam bentuk cahaya. Panjang gelombang maupun frekuensi cahaya yang dilepaskan bergantung pada kandungan energi dari kuantum yang dilepaskan.&lt;br /&gt;Sebuah elektron di dalam atom dapat berpindah dari lintasan tertentu ke lintasan lainnya. Lintasan-lintasan yang dilalui elektron akan menentukan tingkat energi elektron dalam lintasan itu. Lintasan yang paling stabil adalah yang paling dekat dengan inti, yaitu lintasan dengan n = 1. Dalam lintasan ini, elektron mempunyai energi potensial yang paling rendah. Apabila elektron menyerap sejumlah energi tertentu dari luar, maka elektron itu dapat meloncat ke lintasan dengan energi potensial yang lebih tinggi, yaitu lintasan dengan n = 2, 3, 4, dan seterusnya. Dalam kondisi ini dikatakan bahwa elektron berada dalam keadaan tereksitasi sehingga tidak stabil. Pada saat elektron kembali ke keadaan dasarnya (kembali ke lintasan semula), elektron tersebut akan memancarkan kelebihan energinya dalam bentuk radiasi elektromagnetik.&lt;br /&gt;Teori atom Bohr merupakan langkah maju ke depan. Untuk sumbangan ini, Bohr dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Fisika pada 1922. Untuk mendapatkan gambaran secara singkat mengenai atom, model atom Bohr dewasa ini telah diterima secara luas. Dalam model ini digambarkan bahwa atom terdiri atas inti atom yang bermuatan positif dan kulit atom dengan sejumlah elektron bermuatan negatif yang mengitari inti atom melalui lintasan-lintasan dengan tingkat energi tertentu. Oleh Bohr, lintasan-lintasan elektron itu dinamai kulit K (n = 1), kulit L (n = 2), kulit M (n = 3), dan seterusnya. Semakin besar nilai n, lintasan elektron semakin menjauhi inti. Karakteristik fisika sinar-X ternyata dapat dipahami dengan baik menggunakan teori kuantum dan model atom Bohr ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses terjadi sinar-X karakteristik&lt;br /&gt;Pada pesawat sinar-X, metode terpenting dalam proses produksi sinar-X adalah proses yang dikenal dengan bremsstrahlung, yaitu istilah dalam bahasa Jerman yang berarti radiasi pengereman (braking radiation). Elektron sebagai partikel bermuatan listrik yang bergerak dengan kecepatan tinggi, apabila melintas dekat ke inti suatu atom, maka gaya tarik elektrostatik inti atom yang kuat akan menyebabkan elektron membelok dengan tajam. Peristiwa itu menyebabkan elektron kehilangan energinya dengan memancarkan radiasi elektromagnetik yang dikenal sebagai sinar-X bremsstrahlung.&lt;br /&gt;Sinar-X dapat pula terbentuk melalui proses perpindahan elektron atom dari tingkat energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah. Adanya tingkat-tingkat energi dalam atom dapat digunakan untuk menerangkan terjadinya spektrum sinar-X dari suatu atom. Sinar-X yang terbentuk melalui proses ini mempunyai energi sama dengan selisih energi antara kedua tingkat energi elektron tersebut. Karena setiap jenis atom memiliki tingkat-tingkat energi elektron yang berbeda-beda, maka sinar-X yang terbentuk dari proses ini disebut sinar-X karakteristik. Sinar-X bremsstrahlung mempunyai spektrum energi kontinyu yang lebar, sementara spektrum energi dari sinar-X karakteristik adalah diskrit. Sinar-X karakteristik terbentuk melalui proses perpindahan elektron atom dari tingkat energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah. Beda energi antara tingkat-tingkat orbit dalam atom target cukup besar, sehingga radiasi yang dipancarkannya memiliki frekuensi yang cukup besar dan berada pada daerah sinar-X.&lt;br /&gt;Sinar-X karakteristik terjadi karena elektron atom yang berada pada kulit K terionisasi sehingga terpental keluar. Kekosongan kulit K ini segera diisi oleh elektron dari kulit di luarnya. Jika kekosongan pada kulit K diisi oleh elektron dari kulit L, maka akan dipancarkan sinar-X karakteristik Ka. Jika kekosongan itu diisi oleh elektron dari kulit M, maka akan dipancarkan sinar-X karakteristik Kb. Oleh sebab itu, apabila spektrum sinar-X dari suatu atom berelektron banyak diamati, maka di samping spektrum sinar-X bremsstrahlung dengan energi kontinyu, juga akan terlihat pula garis-garis tajam berintensitas tinggi yang dihasilkan oleh transisi Ka, Kb, dan seterusnya. Jadi, sinar-X karakteristik timbul karena adanya transisi elektron dari tingkat energi lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah. Adanya dua jenis sinar-X menyebabkan munculnya dua macam spektrum sinar-X, yaitu spektrum kontinyu yang lebar untuk spektrum bremsstrahlung dan dua buah atau lebih garis tajam untuk sinar-X karakteristik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sebuah elektron ditolak dari kulit dalam atom oleh interaksi dengan berkas elektron energi tinggi, hasilnya adalah ion tersebut berada pada tingkat eksitasi. Setelah melalui proses relaksasi atau de-eksitasi, ion tereksitasi ini memancarkan energi untuk dapat kembali ke tingkat normal yaitu keadaan dasar (ground state). Proses yang paling mungkin dalam kebanyakan kasus adalah deretan transformasi yang masing-masing sebuah elektron dari kulit luar "jatuh" ke tempat kosong di dalam kulit terdalam. Seperti yang telah kita lihat, setiap kejatuhan menyebabkan elektron tersebut kehilangan sejumlah energi, katakan saja beda energi antara kulit di mana elektron berasal dan kulit ke mana elektron jatuh. Energi ini dibebaskan dalam bentuk radiasi elektromagnetik dalam kasus transisi energi tinggi yang melibatkan kulit terdalam. Energi yang diradiasikan ini secara unik mengindikasikan atom dari mana radiasi berasal, makanya disebut sebagai sinar-x karakteristik.&lt;br /&gt;Garis-garis ini biasanya dinamakan sesuai dengan kulit atom ke mana elektron jatuh dan kulit dari mana elektron berasal. Misalnya, jika kulit yang kosong (tujuan) adalah kulit K dan kulit dari mana elektron berasal adalah kulit L, maka sinar-x K diradiasikan. Jika elektron jatuh dari kulit M yang berada dua tingkat di atas kulit K, maka sinar-x yang diradiasikan dinamakan sinar-x K.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_urChPu-FDHc/SJmK6N4P8PI/AAAAAAAAALE/RMR5GHUTPRE/s1600-h/spek1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_urChPu-FDHc/SJmK6N4P8PI/AAAAAAAAALE/RMR5GHUTPRE/s400/spek1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231365174930174194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensitas Sinar-x Karakteristik&lt;br /&gt;Intensitas sinar-x karakteristik yang terdeteksi tergantung pada 3 faktor.&lt;br /&gt;Pertama, nomor atom dari atom teradiasi dan juga atom lingkungannya. Kedua,&lt;br /&gt;probabilitas terabsorpsinya sinar-x sebelum terlepas keluar dari sampel. Ketiga,&lt;br /&gt;fluoresen sekunder yang juga merupakan salah satu akibat terabsorpsinya sinar-x&lt;br /&gt;tersebut. Sebagai contoh, suatu sinar-x karakteristik energi tinggi dari unsure &lt;br /&gt;mungkin diabsorpsi oleh atom unsur B, karenanya merangsang sebuah emisi&lt;br /&gt;karakteristik dari unsur kedua dari energi yang lebih rendah. Terdapatnya unsur&lt;br /&gt;A dan B dalam sampel yang sama akan menaikkan intensitas dari emisi&lt;br /&gt;karakteristik dari unsur B dan mengurangi emisi karakteristik dari unsur A. Inilah&lt;br /&gt;yang disebut sebagai efek matriks (matrix effect), yaitu sebuah efek yang&lt;br /&gt;tergantung pada matriks sampel, yang karenanya membutuhkan perlakuan khusus&lt;br /&gt;selama analisa kuantitatif.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_urChPu-FDHc/SJmK6EbeklI/AAAAAAAAALM/-OXAvWx-cNE/s1600-h/spek2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_urChPu-FDHc/SJmK6EbeklI/AAAAAAAAALM/-OXAvWx-cNE/s400/spek2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231365172393579090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat Dan Sifat Sinar-X&lt;br /&gt;Sinar-X pada hakekatnya merupakan gelombang elektromagnetik, dengan panjang gelombang yang pendek yaitu kurang dari 1010 mm , sehingga memiliki daya tembus yang besar.&lt;br /&gt;Adapun sifat-sifat sinar-X antara lain :&lt;br /&gt;a. Dapat menembus bahan&lt;br /&gt;Daya tembus makin besar bila panjang gelombang sinar-X makin&lt;br /&gt;pendek, ketebalan, keraptan dan nomor atom materi yang dilalui makin rendah&lt;br /&gt;b. Menimbulkan attenuasi sewaktu menembus bahan&lt;br /&gt;c. Menimbulkan radiasi sekunder pada semua bahan yang dilalui&lt;br /&gt;d. Memiliki efek luminiscensi&lt;br /&gt;e. Memiliki efek fotografis&lt;br /&gt;f. Menimbulkan efek biologis&lt;br /&gt;g. Menimbulkan ionisasi pada atom atau senyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat spektroskopi sinar-X Karakteristik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode ini memberi suatu cara yang sangat ampuh naumn sederhan untuk menentukan untuk menentukan nomor atom Z suatu atom, sebagaimana pertama kali diperagakan pada tahun 1913 oleh fisikawan muda Inggris,H.G.J Moseley. Ia mengukur mengukur sinar-X Kα(dan lainnya) dari berbagai unsur dan dengan demikian menentukan nomor atomya&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;1. Arif s, Scanning electron microscopy,FMIPA UI,Jakarta 2006&lt;br /&gt;2. Merrick, H., Sinar-X, Ilmu Pengetahuan Populer, Vol. 10, Grolier International Inc./P.T. Widyadara (1997) hal. 144-151.&lt;br /&gt;3. Wiharto, K., Penerapan Teknik Nuklir Dalam Kedokteran, Buletin BATAN, Th. XII (2), Badan Tenaga Atom Nasional, Jakarta (1991) Hal. 1-9.&lt;br /&gt;4. Wiharto, K., Kedokteran Nuklir dan Aplikasi Teknik Nuklir dalam Kedokteran, Prosiding Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan PSPKR-BATAN, Jakarta (1996), hal. 8-15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3531669985072493741-6939610644992773028?l=ss-radiology.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ss-radiology.blogspot.com/feeds/6939610644992773028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3531669985072493741&amp;postID=6939610644992773028' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/6939610644992773028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3531669985072493741/posts/default/6939610644992773028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/spektroskopi-sinar-x-karakteristik_12.html' title=''/><author><name>Sumarsono.Dipl.Rad, S.Si</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06565470248634118730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_urChPu-FDHc/SJmK6N4P8PI/AAAAAAAAALE/RMR5GHUTPRE/s72-c/spek1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
